Jamaah Umrah Diberangkatkan Usai Nataru Dinilai Kebijakan Keliru
Rabu, 08 Desember 2021 - 06:42 WIB
Ketua Umum AMPUH Abdul Azis menyebut kebijakan Indonesia terkait pemberangkatan jamaah umrah Indonesia usai Nataru sebuah kebijakan yang keliru. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Ketua Umum Afiliasi Mandiri Penyelenggara Umrah dan Haji (AMPUH) Abdul Azis menyebut kebijakan Indonesia terkait pemberangkatan jamaah umrah Indonesia usai Natal dan Tahun Baru (Nataru) sebuah kebijakan yang keliru.
"Pertama, umrah itu adalah usaha yang dikelola oleh anak bangsa yang sudah 2 tahun tidak beroperasi dàn itu menyebabkan banyak PHK di sana-sini. Oleh karena itu menunda masa umrah sampai Nataru itu adalah kebijakan yang keliru," ujar Abdul saat dihubungi MNC Portal, Selasa,(07/12/2021). Baca juga: KJRI Jeddah: 20 Ribu Calon Jamaah Umrah Tunggu E-Visa Dibuka
Sebab, kata dia, kegiatan Nataru tidak dapat disamakan dengan pemberangkatan jamaah umrah ke Tanah Suci yang tujuan untuk beribadah kepada Allah SWT. Menurutnya, kegiatan umrah juga tidak berkerumun.
"Karena orang umrah bukan untuk pergi berkumpul satu tempat dan melakukan perayaan. Tetapi orang umrah pergi ke arab saudi untuk melakukan kegiatan ibadah dnn kembali mereka juga tetap menghindari yang namanya perkumpulan massa," jelas dia.
"Pertama, umrah itu adalah usaha yang dikelola oleh anak bangsa yang sudah 2 tahun tidak beroperasi dàn itu menyebabkan banyak PHK di sana-sini. Oleh karena itu menunda masa umrah sampai Nataru itu adalah kebijakan yang keliru," ujar Abdul saat dihubungi MNC Portal, Selasa,(07/12/2021). Baca juga: KJRI Jeddah: 20 Ribu Calon Jamaah Umrah Tunggu E-Visa Dibuka
Sebab, kata dia, kegiatan Nataru tidak dapat disamakan dengan pemberangkatan jamaah umrah ke Tanah Suci yang tujuan untuk beribadah kepada Allah SWT. Menurutnya, kegiatan umrah juga tidak berkerumun.
"Karena orang umrah bukan untuk pergi berkumpul satu tempat dan melakukan perayaan. Tetapi orang umrah pergi ke arab saudi untuk melakukan kegiatan ibadah dnn kembali mereka juga tetap menghindari yang namanya perkumpulan massa," jelas dia.
Lihat Juga :