Transformasi Struktural dan SDM

Senin, 06 Desember 2021 - 18:03 WIB
Transformasi teknologi sejatinya tak hanya diperlukan oleh sektor industri saja, namun juga dalam sektor pertanian. Inovasi teknologi pertanian berperan penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian, mengingat bahwa peningkatan produksi melalui perluasan lahan (ekstensifikasi) sulit diterapkan di Indonesia, di tengah-tengah konversi lahan pertanian produktif ke non-pertanian kian meluas.

Revolusi pertanian perlu didorong oleh penemuan berbagai mesin, bibit baru, termasuk penggunaan AI (artificial intelligence) dalam pengelolaan produksi termasuk perawatan produk pertanian. Tanpa dukungan teknologi maka produktivitas pertanian akan terancam mengalami penurunan karena merosotnya kesuburan tanah atau kerusakan yang kian meningkat oleh hama penyakit.

Peningkatan kualitas SDM menjadi lebih penting, mengingat tuntutan kemajuan teknologi adalah SDM yang unggul dan cocok bagi pengembangan teknologi itu sendiri. Kita tahu bahwa SDM yang baik dan unggul akan dihasilkan oleh institusi Pendidikan yang baik juga, terutama institusi menengah atas dan Pendidikan tinggi, seperti SMK, vokasi atau sarjana. Dengan demikian Perguruan Tinggi yang berkualitas, perlu ada di setiap wilayah/provinsi untuk mendukung pengembangan teknologi yang lebih merata dan tentu akan membantu pembangunan yang inklusi di Indonesia.

Sinkronisasi Kurikulum dan Kebutuhan Pasar Tenaga Kerja

Berdasarkan Global Human Capital Index oleh World Economic Forum (WEF) 2017, peringkat SDM Indonesia berada pada posisi 65 dari 130 negara. Angka tersebut tertinggal dibandingkan Malaysia (peringkat 33), Thailand (peringkat 40), dan Vietnam (peringkat 64). Di sisi lain, produktivitas tenaga kerja Indonesia mengalami peningkatan, yaitu dari 81,9 juta rupiah/orang pada tahun 2017 menjadi 84,07 juta rupiah/orang pada tahun 2018.

Meski demikian, produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Rendahnya kualitas tenaga kerja yang belum merespon perkembangan kebutuhan pasar kerja merupakan salah satu penyebab produktivitas dan daya saing Indonesia masih tertinggal.

Berdasarkan data Sakernas (2019), proporsi pekerja pada bidang keahlian menengah dan tinggi di Indonesia hanya sekitar 40,60%, lebih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Sementara itu, pekerja masih didominasi lulusan SMP ke bawah (57,54% atau 72,79 juta orang). Tenaga kerja handal yang belum tersedia menjadi salah satu faktor yang menyebabkan masih terjadinya mismatch antara penyediaan layanan pendidikan, termasuk pendidikan dan pelatihan vokasi, dengan kebutuhan pasar kerja.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!