Merekam Dinamika Bumi
Rabu, 01 Desember 2021 - 16:17 WIB
Untuk mengetahui dinamika bumi secara keseluruhan, tentu diperlukan berbagai macam alat pengukur. Tak hanya satu alat di muka bumi, dan dituntut untuk tersedia dalam suatu jaringan global. Untuk keperluan itu, BIG (Badan Informasi Geospasial) sejak tahun 2008, telah jadi bagian dari Global Geodynamics Project.
Apakah superconducting gravimeter ini dapat memprediksi gempa bumi? Sejak SG dipasang di BIG, gempa-gempa kecil dan besar dapat dideteksi. Beberapa sinyal gempa terekam, termasuk gempa besar di Gorontalo yang berkekuatan 7,7 SR pada tanggal 17 November 2008, sebagaimana ilustrasi pada gambar. Namun untuk memprediksi gempa, jadi tantangan menarik dan perlu jadi perhatian. Jika memperhatikan kemampuan super perekamannya boleh jadi alat ini, atau mungkin alat yang lebih super lagi dapat digunakan untuk memprediksi kejadian gempa bumi, tentunya masih diperlukan penelitian lebih dalam dan pembuktian secara ilmiah.
Baca juga: NASA Pastikan Batuan dari Bulan Bisa Jadi Oksigen Penduduk Bumi
Berbagai prediksi terhadap kejadian gempa bumi, bahkan potensi gempa bumi megathrust di sepanjang pantai yang menghadap Samudera Hindia, yang dapat menyebabkan gelombang tsunami lebih dari 20 meter, pernah dinyatakan beberapa pakar. Namun semua penyataan itu hingga kini belum punya kepastian. Ini artinya, bisa terjadi kapan saja. Para ahli dinamika bumi berhipotesis, gempa bumi yang pernah terjadi, dapat terjadi lagi di masa kini dan masa mendatang. Ini dengan memperhatikan perekaman data kejadian gempa bumi yang lokasinya selalu berulang di tempat yang sama. Demikian pula kejadian gempa bumi yang menyebabkan tsunami, khususnya di Indonesia, lokasinya selalu berada di sepanjang pantai yang menghadap ke Samudera Hindia, pada zona subduksi Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia. Namun, sayangnya perangkat yang terpasang di BIG, saat ini dalam masa inaktif, dan sedang dalam upaya aktivasi Kembali. Ini terjadi akibat beberapa suku cadang yang perlu diganti, dan tak tersedia di Indonesia.
Pergerakan Lempeng Bumi
Kejadian gempa bumi merupakan dinamika yang membuktikan adanya aktivitas bumi. Dinamika lainnya berupa pergerakan lempeng bumi, yang juga menyebabkan gempa bumi. Sesuai dengan teori tektonik lempeng, bumi tersusun dari lempeng-lempeng yang bergerak terhadap satu dengan lainnya. Pergerakan ini, menimbulkan perubahan muka bumi, misalnya tubrukan lempeng Eurasia dengan anak benua India, yang memunculkan Pegunungan Himalaya.
Apakah superconducting gravimeter ini dapat memprediksi gempa bumi? Sejak SG dipasang di BIG, gempa-gempa kecil dan besar dapat dideteksi. Beberapa sinyal gempa terekam, termasuk gempa besar di Gorontalo yang berkekuatan 7,7 SR pada tanggal 17 November 2008, sebagaimana ilustrasi pada gambar. Namun untuk memprediksi gempa, jadi tantangan menarik dan perlu jadi perhatian. Jika memperhatikan kemampuan super perekamannya boleh jadi alat ini, atau mungkin alat yang lebih super lagi dapat digunakan untuk memprediksi kejadian gempa bumi, tentunya masih diperlukan penelitian lebih dalam dan pembuktian secara ilmiah.
Baca juga: NASA Pastikan Batuan dari Bulan Bisa Jadi Oksigen Penduduk Bumi
Berbagai prediksi terhadap kejadian gempa bumi, bahkan potensi gempa bumi megathrust di sepanjang pantai yang menghadap Samudera Hindia, yang dapat menyebabkan gelombang tsunami lebih dari 20 meter, pernah dinyatakan beberapa pakar. Namun semua penyataan itu hingga kini belum punya kepastian. Ini artinya, bisa terjadi kapan saja. Para ahli dinamika bumi berhipotesis, gempa bumi yang pernah terjadi, dapat terjadi lagi di masa kini dan masa mendatang. Ini dengan memperhatikan perekaman data kejadian gempa bumi yang lokasinya selalu berulang di tempat yang sama. Demikian pula kejadian gempa bumi yang menyebabkan tsunami, khususnya di Indonesia, lokasinya selalu berada di sepanjang pantai yang menghadap ke Samudera Hindia, pada zona subduksi Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia. Namun, sayangnya perangkat yang terpasang di BIG, saat ini dalam masa inaktif, dan sedang dalam upaya aktivasi Kembali. Ini terjadi akibat beberapa suku cadang yang perlu diganti, dan tak tersedia di Indonesia.
Pergerakan Lempeng Bumi
Kejadian gempa bumi merupakan dinamika yang membuktikan adanya aktivitas bumi. Dinamika lainnya berupa pergerakan lempeng bumi, yang juga menyebabkan gempa bumi. Sesuai dengan teori tektonik lempeng, bumi tersusun dari lempeng-lempeng yang bergerak terhadap satu dengan lainnya. Pergerakan ini, menimbulkan perubahan muka bumi, misalnya tubrukan lempeng Eurasia dengan anak benua India, yang memunculkan Pegunungan Himalaya.