Gas Bumi Akan Jadi Primadona Transisi Energi
Rabu, 01 Desember 2021 - 09:32 WIB
Di tengah ambisi global melakukan transisi energi, dari energi fossil ke energi yang lebih bersih, sektor hulu minyak dan gas bumi memainkan peran penting dalam periode transisi. Bahkan pada masa itu gas bumi akan menjadi energi utama, karena relatif lebi
BALI - Di tengah ambisi global melakukan transisi energi, dari energi fossil ke energi yang lebih bersih, sektor hulu minyak dan gas bumi memainkan peran penting dalam periode transisi. Bahkan pada masa itu gas bumi akan menjadi energi utama, karena relatif lebih bersih dibandingkan energi fosil lainnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Indonesia sudah berkomitmen melakukan transisi energi yang mengarah kepada peningkatan pemakaian energi terbarukan. Meskipun demikian, bukan berarti sumber energi minyak dan gas bumi tidak serta merta ditinggalkan. Energi migas tetap dibutuhkan agar kecukupan pasokan energi untuk mendukung kegiatan ekonomi terjamin. Migas juga tetap dibutuhkan sebagai bahan baku utama beberapa industri.
"Bahkan gas sebagai sumber daya energi yang emisinya rendah tentunya mempunyai peran yang dapat ditingkatkan untuk menggantikan energi fosil lainnya yang dinilai lebih polutif," ujar Menko Airlangga saat menjadi pembicara utama pada hari kedua The 2nd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas 2021, di Bali, Selasa (30/11/2021).
Konvensi internasional yang berlangsung dari 29 November hingga 1 Desember 2021 ini diselenggarakan SKK Migas guna mendukung pencapaian visi bersama industri hulu migas, yaitu target produksi minyak 1 juta barel per hari (BOPD) dan produksi gas 12 miliar kaki kubik per hari (BSCFD) pada 2030. Topik transisi energi menjadi salah satu materi diskusi yang menarik perhatian peserta konvensi.
Untuk mendukung era transisi energi, SKK Migas telah menyusun sejumlah strategi untuk pengurangan emisi karbon. Contohnya adalah pelaksanaan proyek CCUS di lapangan Gundih, di mana dalam hitungan teknis pelaksanaan program selama 10 tahun akan mengurangi CO2 3 juta ton, sedang CCUS di proyek Tangguh, Papua akan mengurangi CO2 sebanyak 32 juta ton selama 10 tahun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Indonesia sudah berkomitmen melakukan transisi energi yang mengarah kepada peningkatan pemakaian energi terbarukan. Meskipun demikian, bukan berarti sumber energi minyak dan gas bumi tidak serta merta ditinggalkan. Energi migas tetap dibutuhkan agar kecukupan pasokan energi untuk mendukung kegiatan ekonomi terjamin. Migas juga tetap dibutuhkan sebagai bahan baku utama beberapa industri.
"Bahkan gas sebagai sumber daya energi yang emisinya rendah tentunya mempunyai peran yang dapat ditingkatkan untuk menggantikan energi fosil lainnya yang dinilai lebih polutif," ujar Menko Airlangga saat menjadi pembicara utama pada hari kedua The 2nd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas 2021, di Bali, Selasa (30/11/2021).
Konvensi internasional yang berlangsung dari 29 November hingga 1 Desember 2021 ini diselenggarakan SKK Migas guna mendukung pencapaian visi bersama industri hulu migas, yaitu target produksi minyak 1 juta barel per hari (BOPD) dan produksi gas 12 miliar kaki kubik per hari (BSCFD) pada 2030. Topik transisi energi menjadi salah satu materi diskusi yang menarik perhatian peserta konvensi.
Untuk mendukung era transisi energi, SKK Migas telah menyusun sejumlah strategi untuk pengurangan emisi karbon. Contohnya adalah pelaksanaan proyek CCUS di lapangan Gundih, di mana dalam hitungan teknis pelaksanaan program selama 10 tahun akan mengurangi CO2 3 juta ton, sedang CCUS di proyek Tangguh, Papua akan mengurangi CO2 sebanyak 32 juta ton selama 10 tahun.
Lihat Juga :