Pakar UNICEF: Angka Kekurangan Gizi Anak Berisiko Meningkat Akibat COVID-19
Rabu, 03 Juni 2020 - 13:25 WIB
Pakar Nutrisi United Nations Childrens Fund (UNICEF) Indonesia, Sri Sukotjo mengungkapkan angka kekuranagn gizi anak Indonesia berisiko meningkat akibat pandemi COVID-19. Foto/SINDOnews/Binti Mufarida
JAKARTA - Pakar Nutrisi United Nations Children's Fund (UNICEF) Indonesia, Sri Sukotjo mengungkapkan angka kekuranagn gizi anak Indonesia berisiko meningkat akibat pandemi COVID-19 .
“Jadi memang sebelum pandemi ini status gizi anak balita di Indonesia itu sudah belum optimal lah,” ujar Sri di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha BNPB, Jakarta, Rabu (3/6/2020). (Baca juga: 20 WNI di Luar Negeri Sembuh COVID-19, Total Menjadi 523 Orang)
Sri mengatakan sebelum pandemi angka stunting di Indonesia sebanyak 7 juta balita. Sementara angka kekurangan gizi pada anak sebanyak 2 juta balita.
“Jadi satu dari tiga anak Indonesia atau sekitar 7 juta balita Indonesia mengalami stunting. Kemudian wasting (kekurangan gizi pada anak) itu sekitar 2 juta balita. Jadi memang status gizi kita belum optimal,” jelasnya.
Namun, setelah pandemi angka-angka kekurangan gizi maupun stunting pada balita berisiko meningkat. Pasalnya, banyak masyarakat yang kehilangan pendapatan atau pekerjaan akibat pandemi COVID-19 ini.
“Pandemi ini sebetulnya untuk kenaikan angka-angka tersebut itu sangat memungkinkan, sangat-sangat tinggi ya. Jadi misalnya, karena Posyandu beberapa waktu kita tahu tidak ada, atau terjadi destrupsi. Maka ini sangat berisiko tinggi untuk anak-anak balita tersebut keadaan gizinya menjadi turun. Dan itu yang sangat menghawatirkan kami di UNICEF,” jelas Sri.
“Jadi memang sebelum pandemi ini status gizi anak balita di Indonesia itu sudah belum optimal lah,” ujar Sri di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha BNPB, Jakarta, Rabu (3/6/2020). (Baca juga: 20 WNI di Luar Negeri Sembuh COVID-19, Total Menjadi 523 Orang)
Sri mengatakan sebelum pandemi angka stunting di Indonesia sebanyak 7 juta balita. Sementara angka kekurangan gizi pada anak sebanyak 2 juta balita.
“Jadi satu dari tiga anak Indonesia atau sekitar 7 juta balita Indonesia mengalami stunting. Kemudian wasting (kekurangan gizi pada anak) itu sekitar 2 juta balita. Jadi memang status gizi kita belum optimal,” jelasnya.
Namun, setelah pandemi angka-angka kekurangan gizi maupun stunting pada balita berisiko meningkat. Pasalnya, banyak masyarakat yang kehilangan pendapatan atau pekerjaan akibat pandemi COVID-19 ini.
“Pandemi ini sebetulnya untuk kenaikan angka-angka tersebut itu sangat memungkinkan, sangat-sangat tinggi ya. Jadi misalnya, karena Posyandu beberapa waktu kita tahu tidak ada, atau terjadi destrupsi. Maka ini sangat berisiko tinggi untuk anak-anak balita tersebut keadaan gizinya menjadi turun. Dan itu yang sangat menghawatirkan kami di UNICEF,” jelas Sri.
Lihat Juga :