Menyoal Keterbukaan China
Rabu, 22 April 2020 - 06:14 WIB
Dinna Prapto Raharja, Ph.D. Foto/Istimewa
Dinna Prapto Raharja, Ph.D
Praktisi & Pengajar Hubungan Internasional
Seiiring dengan semakin menurunnya jumlah warga yang terinfeksi virus corona (Covid-19) maka semakin besar juga tekanan kepada China untuk membuka selebar-lebarnya informasi tentang wabah yang pertama kali merebak di Kota Wuhan itu.
Tekanan ini wajar karena para pemimpin di beberapa negara menghadapi pertanyaan besar tentang apa syarat bahwa wabah ini dinyatakan telah berakhir? Apakah menurunnya kasus baru sudah dapat dianggap sebagai keadaan sudah kembali normal? Namun bagaimana dengan orang yang sudah sembuh, apakah mereka masih bisa kembali terinfeksi? Apakah mereka bisa tetap menjadi carrier bagi kelompok-kelompok yang rentan seperti lansia, balita dan kelompok orang yang memiliki penyakit bawaan? Apakah cukup jika diambil kesimpulan dari penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saja?
Praktisi & Pengajar Hubungan Internasional
Seiiring dengan semakin menurunnya jumlah warga yang terinfeksi virus corona (Covid-19) maka semakin besar juga tekanan kepada China untuk membuka selebar-lebarnya informasi tentang wabah yang pertama kali merebak di Kota Wuhan itu.
Tekanan ini wajar karena para pemimpin di beberapa negara menghadapi pertanyaan besar tentang apa syarat bahwa wabah ini dinyatakan telah berakhir? Apakah menurunnya kasus baru sudah dapat dianggap sebagai keadaan sudah kembali normal? Namun bagaimana dengan orang yang sudah sembuh, apakah mereka masih bisa kembali terinfeksi? Apakah mereka bisa tetap menjadi carrier bagi kelompok-kelompok yang rentan seperti lansia, balita dan kelompok orang yang memiliki penyakit bawaan? Apakah cukup jika diambil kesimpulan dari penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saja?
Lihat Juga :