Indonesia Jangan Ragu Ikuti Jejak Selandia Baru Turunkan Prevalensi Merokok
Minggu, 03 Oktober 2021 - 19:02 WIB
"Yang perlu digarisbawahi, riset harus dilakukan secara independen, namun transparan dan partisipatif melibatkan juga konsumen, akademisi, dan dunia usaha," katanya.
Sejauh ini, menurut Bimmo, program yang telah dijalankan pemerintah dalam menekan prevalensi merokok belum membuahkan hasil signifikan. Oleh sebab itu diperlukan solusi yang berbeda untuk mengurangi masalah merokok yang kompleksitasnya tinggi melalui dukungan penggunaan produk tembakau alternatif.
"Terbuka terhadap inovasi teknologi merupakan kunci. Praktik baik di negara-negara yang punya profil perokok serupa patut dijadikan pertimbangan," katanya.
Dalam kesempatan berbeda, Louis Houlbrooke, Manajer Kampanye Serikat Pembayar Pajak Selandia Baru, menyatakan negaranya menentang kebijakan WHO. Kementerian Kesehatan Selandia Baru mengakui bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko 95% lebih rendah dibandingkan rokok. Kementerian bahkan mengampanyekan kepada publik bahwa produk ini untuk membantu perokok dewasa yang ingin berhenti merokok.
Louis berharap Pemerintah Selandia Baru menyampaikan keputusan mereka mendukung penggunaan produk tembakau alternatif dalam konferensi dua tahunan WHO pada November mendatang.
"Delegasi kami harus hadir dan menceritakan kisah Selandia Baru dengan bangga. Jika WHO menolak untuk mengalah pada sikap paranoidnya, negara-negara lain dapat melihat kita sebagai contoh untuk diikuti," katanya.
Sejauh ini, menurut Bimmo, program yang telah dijalankan pemerintah dalam menekan prevalensi merokok belum membuahkan hasil signifikan. Oleh sebab itu diperlukan solusi yang berbeda untuk mengurangi masalah merokok yang kompleksitasnya tinggi melalui dukungan penggunaan produk tembakau alternatif.
"Terbuka terhadap inovasi teknologi merupakan kunci. Praktik baik di negara-negara yang punya profil perokok serupa patut dijadikan pertimbangan," katanya.
Dalam kesempatan berbeda, Louis Houlbrooke, Manajer Kampanye Serikat Pembayar Pajak Selandia Baru, menyatakan negaranya menentang kebijakan WHO. Kementerian Kesehatan Selandia Baru mengakui bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko 95% lebih rendah dibandingkan rokok. Kementerian bahkan mengampanyekan kepada publik bahwa produk ini untuk membantu perokok dewasa yang ingin berhenti merokok.
Louis berharap Pemerintah Selandia Baru menyampaikan keputusan mereka mendukung penggunaan produk tembakau alternatif dalam konferensi dua tahunan WHO pada November mendatang.
"Delegasi kami harus hadir dan menceritakan kisah Selandia Baru dengan bangga. Jika WHO menolak untuk mengalah pada sikap paranoidnya, negara-negara lain dapat melihat kita sebagai contoh untuk diikuti," katanya.
(abd)
Lihat Juga :