Menyelamatkan Pendidikan dengan Hybrid Learning
Senin, 16 Agustus 2021 - 07:50 WIB
Konsep hybrid learning menjadi alternatif yang diajukan sebagai model ideal pembelajaran di tengah pandemi. Konsep ini mengabungkan pembelajaran online dan tatap muka. Nantinya pola pembelajaran bisa dibikin dengan sistem shift di mana ada shift online dan shift tatap muka per minggu secara bergantian. Dengan demikian pada satu sisi konsep ini meminimalkan adanya pertemuan tatap muka, tetapi pada sisi lain juga tidak menghilangkan ikatan psikologis siswa dengan sekolah mereka. “Kami akan terus matangkan konsep hybrid learning ini sebagai bagian dari upaya menyesuakan diri untuk hidup berdampingan dengan situasi pandemi,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset Teknologi Nizam.
Dia menjelaskan hybrid learning ini merupakan konsep campuran dua metode pembelajaran baik tatap muka maupun jarak jauh. Menurutnya jika selalu menggunakan metode pembelajaran jarak jauh, akan banyak unsur pendidikan yang hilang."Selama hampir satu tahun setengah kita melakukan pembelajaran dari rumah, ini banyak yang hilang. Pembelajaran mungkin tersampaikan dengan baik dan tingkat keterserapan materi itu lumayan, tetapi pendidikan itu tidak semata-mata pembelajaran. Banyak hal-hal yang penting yang tidak bisa tergantikan dengan belajar daring," katanya.
Dia menegaskan, pembelajaran daring menurunkan tingkat interaksi sosial dan emosional siswa terhadap lingkungannya. Pengembangan nilai-nilai dalam diri siswa juga mengalami keterbatasan. Metode pembelajaran campuran ini mengizinkan sebagian siswa belajar tatap muka di kelas dan sebagian lagi tetap belajar via daring. Lalu pengajar akan menjelaskan materi lewat layar sehingga siswa yang belajar daring pun bisa merasakan interaksi. "Kebijakan ini sebenarnya sangat baik sekali, tetapi memang dituntut sebuah tanggung jawab dan kedisiplinan yang sangat luar biasa karena kita berhadapan dengan risiko pandemi yang tidak bisa diremehkan dan kekhawatiran terciptanya generasi SDM yang menurun kompetensi serta keahliannya," sambungnya.
Nisa Felicia, peneliti Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), menilai banyak hal yang perlu disiapkan untuk menerapkan konsep hybrid learning. Pertama adalah kesiapan para guru. Menurutnya Kemendikbud Ristek harus menyiapkan berbagai contoh model penerapan hybrid learning baik dari sisi pengelolaan jam belajar, kurikulum maupun materi pembelajaran. Berbagai simulasi harus segera dilakukan sebelum praktik hybrid learning di lapangan. Menurutnya jangan sampai ada pengulangan materi saat belajar online di rumah dan saat belajar tatap muka di sekolah. “Kalau siswa bisa membaca buku di rumah atau belajar mandiri berarti di sekolah, siswa jangan suruh membaca buku di sekolah. Di sekolah mereka hanya 45 menit, jangan dihabiskan untuk mengerjakan soal, itu juga bisa dilakukan di rumah. Jadi di kelas ngapain? Ya justru saat di sekolah saat bertemu dengan guru secara langsung, gunakan waktu ini untuk berdiskusi, bertanya bagian materi yang tidak mengerti, membahas soal bersama, memecahkan suatu soal secara bersama. Apa yang dibutuhkan murid dari guru, guru bisa berikan,” papar Nisa kepada KORAN SINDO, Kamis (12/8).
Selain kesiapan guru dan materi pembelajaran, kata Nisa, Kemendikbud Ristek perlu meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah. Dinas pendidikan di setiap wilayah harus siap membantu para guru untuk menyiapkan sistem pengajaran hybrid sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing. Dia mencontohkan kebutuhan DKI Jakarta tentu berbeda dengan kebutuhan di Nusa Tenggara Timur. “Untuk akses internet misalnya DKI Jakarta tentu tidak ada masalah, tetapi menjadi masalah besar di wilayah lain. Di sini tentu dinas pendidikan harus memastikan kebutuhan penunjang dari penyelenggara sekolah terpenuhi,” katanya.
Dia menjelaskan hybrid learning ini merupakan konsep campuran dua metode pembelajaran baik tatap muka maupun jarak jauh. Menurutnya jika selalu menggunakan metode pembelajaran jarak jauh, akan banyak unsur pendidikan yang hilang."Selama hampir satu tahun setengah kita melakukan pembelajaran dari rumah, ini banyak yang hilang. Pembelajaran mungkin tersampaikan dengan baik dan tingkat keterserapan materi itu lumayan, tetapi pendidikan itu tidak semata-mata pembelajaran. Banyak hal-hal yang penting yang tidak bisa tergantikan dengan belajar daring," katanya.
Dia menegaskan, pembelajaran daring menurunkan tingkat interaksi sosial dan emosional siswa terhadap lingkungannya. Pengembangan nilai-nilai dalam diri siswa juga mengalami keterbatasan. Metode pembelajaran campuran ini mengizinkan sebagian siswa belajar tatap muka di kelas dan sebagian lagi tetap belajar via daring. Lalu pengajar akan menjelaskan materi lewat layar sehingga siswa yang belajar daring pun bisa merasakan interaksi. "Kebijakan ini sebenarnya sangat baik sekali, tetapi memang dituntut sebuah tanggung jawab dan kedisiplinan yang sangat luar biasa karena kita berhadapan dengan risiko pandemi yang tidak bisa diremehkan dan kekhawatiran terciptanya generasi SDM yang menurun kompetensi serta keahliannya," sambungnya.
Nisa Felicia, peneliti Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), menilai banyak hal yang perlu disiapkan untuk menerapkan konsep hybrid learning. Pertama adalah kesiapan para guru. Menurutnya Kemendikbud Ristek harus menyiapkan berbagai contoh model penerapan hybrid learning baik dari sisi pengelolaan jam belajar, kurikulum maupun materi pembelajaran. Berbagai simulasi harus segera dilakukan sebelum praktik hybrid learning di lapangan. Menurutnya jangan sampai ada pengulangan materi saat belajar online di rumah dan saat belajar tatap muka di sekolah. “Kalau siswa bisa membaca buku di rumah atau belajar mandiri berarti di sekolah, siswa jangan suruh membaca buku di sekolah. Di sekolah mereka hanya 45 menit, jangan dihabiskan untuk mengerjakan soal, itu juga bisa dilakukan di rumah. Jadi di kelas ngapain? Ya justru saat di sekolah saat bertemu dengan guru secara langsung, gunakan waktu ini untuk berdiskusi, bertanya bagian materi yang tidak mengerti, membahas soal bersama, memecahkan suatu soal secara bersama. Apa yang dibutuhkan murid dari guru, guru bisa berikan,” papar Nisa kepada KORAN SINDO, Kamis (12/8).
Selain kesiapan guru dan materi pembelajaran, kata Nisa, Kemendikbud Ristek perlu meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah. Dinas pendidikan di setiap wilayah harus siap membantu para guru untuk menyiapkan sistem pengajaran hybrid sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing. Dia mencontohkan kebutuhan DKI Jakarta tentu berbeda dengan kebutuhan di Nusa Tenggara Timur. “Untuk akses internet misalnya DKI Jakarta tentu tidak ada masalah, tetapi menjadi masalah besar di wilayah lain. Di sini tentu dinas pendidikan harus memastikan kebutuhan penunjang dari penyelenggara sekolah terpenuhi,” katanya.
Lihat Juga :