Jawa – Sentris dan Pertumbuhan Ekonomi Baru
Selasa, 06 Juli 2021 - 12:56 WIB
Pengendalian kasus aktif Covid-19 dan pertumbuhan ekonomi adalah dua hal yang saling bertaut. Lemahnya perekonomian nasional akibat besarnya angka kasus aktif Covid 19 di Jawa saat ini menjadi sebab yang bisa diterima mengingat besarnya ketergantungan roda ekonomi nasional terhadap Pulau Jawa. Data menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia kuartal I-2021 masih mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,74% (yoy). Hal itu terjadi lantaran pengaruh kinerja ekonomi Pulau Jawa yang juga masih mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,83% (yoy). Padahal ketika di telaah lebih lanjut, di wilayah Indonesia lainnya telah mengalami pertumbuhan positif, yakni kelompok provinsi di Pulau Maluku dan Papua yang mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,97 persen (y-on-y). Akan tetapi sayangnya, peranan provinsi di Pulau Maluku dan Papua hanya sebesar 2,44% terhadap PDB sehingga tak mampu mendongkrak angka perekonomian nasional.
Rekonstruksi Pola Pembangunan
Kuznets melalui teori perubahan strukturalnya menjelaskan bahwa perubahan struktural mengandung arti peralihan dari masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri modern, yang mencakup peralihan lembaga, sikap sosial dan motivasi yang ada secara radikal. Perubahan struktural ini menyebabkan kesempatan kerja semakin bertambah banyak, dan produktivitas buruh, stok modal, pendayagunaan sumber-sumber baru serta teknologi yang akan semakin tinggi. Teori tersebut menjelaskan bahwa sektor industri diyakini sebagai sektor yang dapat memimpin sektor-sektor lain dalam sebuah perekonomian menuju
kemajuan. Produk – produk industrialisasi selalu memiliki “dasar tukar” (terms of trade) yang tinggi atau lebih menguntungkan serta meciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan produk – produk sektor lain. Hal ini disebabkan karena sektor industri memiliki produk yang sangat beragam dan mampu memberikan manfaat marjinal yang tinggi kepada pemakainya seta memberikan margin/keuntungan yang lebih menarik.
Kemampuan Pulau Jawa dalam mendominasi roda perekonomian nasional bukan tanpa alasan. Selama ini, industri besar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Data menunjukkan bahwa lebih dari 52% industri pengolahan masih terdapat di Pulau Jawa. Sementara potensi lainnya baik di Sulawesi, Kalimantan, Papua masih berada di bawah 10%. Sejatinya, bahan baku yang melimpah di Sumatera dan Kalimantan, seharusya mampu mendorong sektor industri tumbuh dan berkembang di dua pulau tersebut. Adapun alasan dibalik masih minimnya pembangunan industri pengolahan di luar Pulau Jawa adalah karena terbatasnya dukungan sarana dan prasarana yang ada di kawasan tersebut.
Baca juga: Harga PPKM Darurat, dalam Jangka Pendek Pertumbuhan Ekonomi Akan Terkontraksi
Rekonstruksi Pola Pembangunan
Kuznets melalui teori perubahan strukturalnya menjelaskan bahwa perubahan struktural mengandung arti peralihan dari masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri modern, yang mencakup peralihan lembaga, sikap sosial dan motivasi yang ada secara radikal. Perubahan struktural ini menyebabkan kesempatan kerja semakin bertambah banyak, dan produktivitas buruh, stok modal, pendayagunaan sumber-sumber baru serta teknologi yang akan semakin tinggi. Teori tersebut menjelaskan bahwa sektor industri diyakini sebagai sektor yang dapat memimpin sektor-sektor lain dalam sebuah perekonomian menuju
kemajuan. Produk – produk industrialisasi selalu memiliki “dasar tukar” (terms of trade) yang tinggi atau lebih menguntungkan serta meciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan produk – produk sektor lain. Hal ini disebabkan karena sektor industri memiliki produk yang sangat beragam dan mampu memberikan manfaat marjinal yang tinggi kepada pemakainya seta memberikan margin/keuntungan yang lebih menarik.
Kemampuan Pulau Jawa dalam mendominasi roda perekonomian nasional bukan tanpa alasan. Selama ini, industri besar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Data menunjukkan bahwa lebih dari 52% industri pengolahan masih terdapat di Pulau Jawa. Sementara potensi lainnya baik di Sulawesi, Kalimantan, Papua masih berada di bawah 10%. Sejatinya, bahan baku yang melimpah di Sumatera dan Kalimantan, seharusya mampu mendorong sektor industri tumbuh dan berkembang di dua pulau tersebut. Adapun alasan dibalik masih minimnya pembangunan industri pengolahan di luar Pulau Jawa adalah karena terbatasnya dukungan sarana dan prasarana yang ada di kawasan tersebut.
Baca juga: Harga PPKM Darurat, dalam Jangka Pendek Pertumbuhan Ekonomi Akan Terkontraksi
Lihat Juga :