Tantangan Industri Manufaktur di Masa PPKM Darurat
Senin, 05 Juli 2021 - 06:33 WIB
Adapun untuk sektor kritikal yang diperbolehkan beroperasi meliputi energi, kesehatan, keamanan, logistik dan transportasi, industri makanan, minuman dan penunjangnya, petrokimia, semen, objek vital nasional, penanganan bencana, proyek strategis nasional, konstruksi, utilitas dasar (listik dan air), dan industri pemenuhan kebutuhan pokok.
Melihat daftar sektor usaha yang tetap beroperasi, kita berharap sektor ekonomi secara umum akan tetap berjalan normal. Sehingga, hal itu bisa menjaga momentum pemulihan yang diperlihatkan pada indeks belanja manajer atau Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia di mana pada Juni lalu masih berada di zona ekspansif yakni di angka 53,5. Ini tentu kabar baik karena indeks di atas 50 menunjukkan geliat industri manufaktur masih ekspansif.
Akan tetapi, di bulan Juli ini tampaknya sektor manufaktur harus menghadapi tantangan cukup berat karena dibelakukan PPKM Darurat yang dilakukan selama dua pekan. Akan tetapi, risiko ini menjadi pilihan demi menekan kasus penyebaran Covid-19 pada Minggu (04/06), bertambah sebanyak 27.233 kasus baru sehingga total mencapai 2.284.084 kasus. Sementara jumlah angka meninggal dunia bertambah 555 orang sehingga total menjadi 60.582 orang dan jumlah kasus sembuh bertambah 13.127 orang menjadi total 1.928.274 orang.
Terkait kinerja manufaktur pada Juni lalu, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan kita perlu bersyukur bahwa sektor industri manufaktur masih ekspansif dan masih ada gairah usaha kendati berada di tengah dampak peningkatan kasus korona. Apalagi berdasarkan data IHS Markit, dikutip dari situs Setkab.go.id, PMI Manufaktur Indonesia bulan lalu masih lebih tinggi dibanding PMI Manufaktur ASEAN yang berada di level 49,0. PMI Manufakur Indonesia juga mengungguli PMI Manufaktur Filipina (50,8), Thailand (49,5), Singapura (46,5), Vietnam (44,1), Malaysia (39,9), Cina (51,3), Jepang (52,4), dan India (50,8).
Kinerja di sektor industri manufaktur bersama sejumlah indikator lainnya, membuat Kemenperin tetap optimistis ekonomi nasional akan tumbuh positif pada kuartal II tahun ini. Terlebih dalam delapan bulan terakhir, PMI Manufaktur Indonesia terus berada di atas angka 50 yang berarti ada ekspansi dari kalangan dunia usaha.
Melihat daftar sektor usaha yang tetap beroperasi, kita berharap sektor ekonomi secara umum akan tetap berjalan normal. Sehingga, hal itu bisa menjaga momentum pemulihan yang diperlihatkan pada indeks belanja manajer atau Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia di mana pada Juni lalu masih berada di zona ekspansif yakni di angka 53,5. Ini tentu kabar baik karena indeks di atas 50 menunjukkan geliat industri manufaktur masih ekspansif.
Akan tetapi, di bulan Juli ini tampaknya sektor manufaktur harus menghadapi tantangan cukup berat karena dibelakukan PPKM Darurat yang dilakukan selama dua pekan. Akan tetapi, risiko ini menjadi pilihan demi menekan kasus penyebaran Covid-19 pada Minggu (04/06), bertambah sebanyak 27.233 kasus baru sehingga total mencapai 2.284.084 kasus. Sementara jumlah angka meninggal dunia bertambah 555 orang sehingga total menjadi 60.582 orang dan jumlah kasus sembuh bertambah 13.127 orang menjadi total 1.928.274 orang.
Terkait kinerja manufaktur pada Juni lalu, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan kita perlu bersyukur bahwa sektor industri manufaktur masih ekspansif dan masih ada gairah usaha kendati berada di tengah dampak peningkatan kasus korona. Apalagi berdasarkan data IHS Markit, dikutip dari situs Setkab.go.id, PMI Manufaktur Indonesia bulan lalu masih lebih tinggi dibanding PMI Manufaktur ASEAN yang berada di level 49,0. PMI Manufakur Indonesia juga mengungguli PMI Manufaktur Filipina (50,8), Thailand (49,5), Singapura (46,5), Vietnam (44,1), Malaysia (39,9), Cina (51,3), Jepang (52,4), dan India (50,8).
Kinerja di sektor industri manufaktur bersama sejumlah indikator lainnya, membuat Kemenperin tetap optimistis ekonomi nasional akan tumbuh positif pada kuartal II tahun ini. Terlebih dalam delapan bulan terakhir, PMI Manufaktur Indonesia terus berada di atas angka 50 yang berarti ada ekspansi dari kalangan dunia usaha.
Lihat Juga :