Indonesia Bukan India, Pilkada Serentak 2020 Sudah Membuktikan

Rabu, 05 Mei 2021 - 00:16 WIB
Mendagri Tito Karnavian mengatakan tingkat partisipasi pemilih di Pilkada 2020 mendapat apresiasi dari Duta Besar Amerika Serikat Sung Kim. Adapun, kata Tito, jumlah partisipasi pemilih di Pilkada 2020 mencapai 76,09% mendekati target sebesar 77,5%. "Mereka (AS) menyampaikan selamat kepada Indonesia, karena selain tertib saat pemungutan suara, kampanye juga, voters turnout ini luar biasa bagi mereka," kata Tito dilansir dari laman resmi Kemendagri, Kamis (21/1/2021).

Sebelumnya, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia menyampaikan selamat atas keberhasilan Pilkada 2020. "Saya ingin mengucapkan selamat atas suksesnya pemilihan (kepala) daerah yang baru lalu. Sungguh menakjubkan bagi saya kesuksesan tersebut," jelas Duta Besar AS untuk Indonesia, Sung Y Kim saat melakukan kunjungan kehormatan ke Kantor Kemendagri, seperti dikutip dari Sindonews.com (21/1/2021).

Lalu, walau sama-sama melaksanakan hajatan politik di tengah pandemi, kenapa India dan Indonesia berbeda. Di Indonesia, pilkada tidak menjadi ajang penularan Covid, sementara di India, pemilihan kepala daerah menjadi ajang penularan Covid yang sangat parah. Jawabannya adalah India lengah.

Hajatan politik di India tanpa dibarengi dengan prokes yang ketat. Tanpa intervensi, sehingga disiplin atas prokes oleh masyarakat dan kontestan pemilu nyaris tak ada.

Lewat Pilkada 2020, Indonesia telah membuktikan bisa mengendalikan covid lewat disiplin masyarakat untuk 3 M plus menghindari kerumunan. Tapi tak boleh lengah seperti yang saat ini terjadi di India.

Khususnya di ritual lain seperti jelang mudik.

Sama degan Pilkada, di mana Kemendagri memobilisasi KDH dan jajaran di daerahnya, maka daerah harus bergerak cepat memakai pola pilkada agar sukses kendalikan Covid jelang Lebaran. Pelajaran kontras dari India jangan terjadi. Karena Indonesia sudah relatif berhasil dalam pilkada sementara India gagal. Apalagi dengan ditemukannya mutasi virus Covid yang sudah menyerang berbagai negara seperti India, UK dan Thailand.

Melansir The Asean Post, varian baru yang disebut B.1.617, awalnya terdeteksi di India dengan dua mutasi, yaitu E484Q dan L452R. Penemuan pertama kalinya dilaporkan akhir tahun lalu oleh seorang ilmuwan di India dan rincian lebih lanjut disajikan di hadapan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia).
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!