Mengenal Fransisca Fanggidaej, Perempuan Pejuang asal NTT yang Terlupakan

Selasa, 20 April 2021 - 17:15 WIB
Dia juga aktif dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Surabaya pasca Proklamasi 17 Agustus 1945. Anak “Belanda Hitam”, julukan bagi orang pribumi yang statusnya disamakan dengan orang Belanda itu juga ikut dalam Kongres Pemuda Indonesia I di Yogyakarta pada November 1945.

Francisca bersama para pemuda dari Surabaya meninggalkan kongres saat pertempuran Surabaya pecah, untuk berangkat ke medan pertempuran. Dia aktif di berbagai organisasi, diantaranya di Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).

Dia kemudian aktif di Radio Gelora Pemoeda Indonesia setelah pindah ke Madiun. Di Radio yang di bawah Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) itu, dia bertugas siaran dalam bahasa Inggris dan Belanda. Belanda pun mencap Radio Gelora Pemoeda Indonesia sebagai pemberontak dan ekstremis.

“Kalaupun kata ‘memberontak’ kita terima, tapi kita memberontak terhadap penjajahan, penindasan, dan ketidakadilan. Karena itulah kita melawan. Kita tidak bisa membiarkan serdadu-serdadu NICA keluar desa masuk desa membunuhi rakyat, demikian kata Francisca,” lanjut Anna Marsiana mengutip dari historia.id.

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!