Neraca Perdagangan Kembali Raih Surplus
Jum'at, 16 April 2021 - 06:30 WIB
Terlepas dari kenaikan angka impor dan ekspor, dominasi China dalam perdagangan luar negeri Indonesia sulit untuk dihindari, baik pada kinerja ekspor maupun impor dengan memegangshareterbesar. BPS mencatat pangsa pasar ekspor Indonesia terbesar adalah ke Negeri Panda sekitar 21,36% atau senilai sebesar USD3,73 miliar dari total nilai ekspor sebesar USD18,35 miliar pada Maret 2021. Selanjutnya, disusul Amerika Serikat (AS) sekitar 11,86% atau sebesar USD2,07 miliar, Jepang sebesar 7,91% atau setara USD1,38 miliar, India sekitar 7,12% atau senilai USD1,24 miliar. Lalu, ASEAN sebesar 19,81% atau setara USD3,46 miliar dan Uni Eropa sekitar 8,25% atau senilai USD 1,44 miliar.
Dari sisi impor, China tetap tidak tertandingi dengan nilai impor sebesar USD 3,98 miliar atau sekitar 27,44 dari total nilai impor sebesar USD16,79 miliar pada Maret 2021, disusul Jepang senilai USD1,27 miliar atau 8,78%, Korea Selatan sebesar USD1,05 miliar atau 7,24%, dan Singapura senilai USD0,84 miliar atau 5,78%. Adapun kawasan ASEAN berkontribusi sekitar 18,90% atau setara USD2,74 miliar, dan Uni Eropa sebesar 5,92% atau setara USD0,86 miliar. Jadi, China tetap tak terkalahkan baik dari sisi impor maupun ekspor.
Lalu, negara mana saja yang menyumbang surplus untuk NPI Maret lalu? Di antaranya, sebagaimana dipublikasi BPS adalah AS, Filipina, dan India. NPI meraih surplus dari Negeri Paman Sam sebesar USD1,33 miliar, lalu negeri tetangga Filipina USD592,1 juta, diikuti India USD502,4 juta. Sebaliknya, NPI mengalami defisit dengan sejumlah negara, di antaranya, Australia yang defisit USD 529,3 juta, Korea Selatan USD503,5 juta dan Thailand USD281,1 juta.
Selama tiga bulan, BPS mencatat NPI meraih surplus cukup besar dibandingkan periode yang sama pada 2020 maupun 2019. Total surplus sepanjang triwulan pertama 2021 sebesar USD5,52 miliar dikontribusikan dari surplus Januari USD2 miliar, Februari USD 2,01 miliar dan Maret USD1,57 miliar. Sepanjang kuartal pertama nilai ekspor terbukukan USD48,90 miliar dan nilai impor USD43,38 miliar.
Apakah ini salah satu pertanda kalau roda perekonomian mulai berputar normal lagi? Barangkali terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Namun, setidaknya kinerja NPI selama tiga bulan berturut-turut yang membukukan surplus menjadi pemicu tersendiri atau napas baru dalam menumbuhkan perekonomian yang terseok-seok karena dihajar pandemi Covid-19.
Dari sisi impor, China tetap tidak tertandingi dengan nilai impor sebesar USD 3,98 miliar atau sekitar 27,44 dari total nilai impor sebesar USD16,79 miliar pada Maret 2021, disusul Jepang senilai USD1,27 miliar atau 8,78%, Korea Selatan sebesar USD1,05 miliar atau 7,24%, dan Singapura senilai USD0,84 miliar atau 5,78%. Adapun kawasan ASEAN berkontribusi sekitar 18,90% atau setara USD2,74 miliar, dan Uni Eropa sebesar 5,92% atau setara USD0,86 miliar. Jadi, China tetap tak terkalahkan baik dari sisi impor maupun ekspor.
Lalu, negara mana saja yang menyumbang surplus untuk NPI Maret lalu? Di antaranya, sebagaimana dipublikasi BPS adalah AS, Filipina, dan India. NPI meraih surplus dari Negeri Paman Sam sebesar USD1,33 miliar, lalu negeri tetangga Filipina USD592,1 juta, diikuti India USD502,4 juta. Sebaliknya, NPI mengalami defisit dengan sejumlah negara, di antaranya, Australia yang defisit USD 529,3 juta, Korea Selatan USD503,5 juta dan Thailand USD281,1 juta.
Selama tiga bulan, BPS mencatat NPI meraih surplus cukup besar dibandingkan periode yang sama pada 2020 maupun 2019. Total surplus sepanjang triwulan pertama 2021 sebesar USD5,52 miliar dikontribusikan dari surplus Januari USD2 miliar, Februari USD 2,01 miliar dan Maret USD1,57 miliar. Sepanjang kuartal pertama nilai ekspor terbukukan USD48,90 miliar dan nilai impor USD43,38 miliar.
Apakah ini salah satu pertanda kalau roda perekonomian mulai berputar normal lagi? Barangkali terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Namun, setidaknya kinerja NPI selama tiga bulan berturut-turut yang membukukan surplus menjadi pemicu tersendiri atau napas baru dalam menumbuhkan perekonomian yang terseok-seok karena dihajar pandemi Covid-19.
(bmm)
Lihat Juga :