Mengejar Ilmu Baterai ke Negeri China
Senin, 05 April 2021 - 06:20 WIB
Pada kesempatan itu disebutkan bahwa pihak Indonesia yang di dalamnya terdapat konsorsium Indonesia Battery Corporation (IBC) akan bekerja sama Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL). IBC merupakan gabungan dari empat perusahaan BUMN yakni Pertamina, MIND ID, Antam, dan PLN yang masing-masing menyetor 25% saham.Selain dengan China, pemerintah juga membidik kerja sama lain dengan produsen Korea Selatan, yakni LG Chem, meski sama-sama belum resmi berkontrak. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan IBC akan menggandeng perusahaan dari negara lain yang masih dijajaki.
CATL memang relatif pemain baru dalam industri baterai. Namun, kiprahnya sudah diakui industri automotif. Selain memasok kebutuhan baterai untuk kendaraan listrik, perusahaan yang berkantor pusat di Ningde, Fujian, China, itu juga merupakan produsen baterai untuk aplikasi komersial lain, seperti sistem penyimpanan energi dan daur ulang baterai. Perusahaan itu memiliki empat pusat riset dan pengembangan serta lima basis produksi di China dan satu di Jerman.Dikutip dari situs resmi Fortune.com, CATL yang didirikan pada 2011 kini telah menjadi pemasok baterai mobil listrik untuk beberapa pabrikan. Antara lain Volkswagen, BMW, Honda, serta sejumlah merek kendaraan China. Fortune pun pernah memasukkan CATL dalam daftar Fortune Futures 50 pada 2018 lalu, yakni daftar perusahaan yang dianggap sangat potensial di masa depan. Perusahaan lain yang tergabung dalam daftar ini antara lain Spotify, Xiaomi, Tencent, dan Twitter.
Melihat sederet portofolio yang selama ini dikerjakan oleh CATL, rasanya ada harapan besar kerja sama tersebut bisa sukses, tidak saja menjadikan industri baterai nasional berkiprah di level global, tetapi juga memberikan multiplier effect ke perekonomian secara keseluruhan. Di samping itu, yang mesti diingat adalah jangan sampai pada pelaksanaannya nanti, kerja sama itu abai dari upaya alih teknologi dan hanya memberikan akses ke sumber daya alam bagi sang mitra.Tak lupa, nilai investasi dari kerja sama IBC dengan CATAL yang diperkirakan mencapai Rp70 triliun itu diharapkan juga bisa menyerap banyak tenaga kerja lokal sehingga denyut ekonomi yang sempat terganggu karena pandemi bisa kembali menggeliat.
CATL memang relatif pemain baru dalam industri baterai. Namun, kiprahnya sudah diakui industri automotif. Selain memasok kebutuhan baterai untuk kendaraan listrik, perusahaan yang berkantor pusat di Ningde, Fujian, China, itu juga merupakan produsen baterai untuk aplikasi komersial lain, seperti sistem penyimpanan energi dan daur ulang baterai. Perusahaan itu memiliki empat pusat riset dan pengembangan serta lima basis produksi di China dan satu di Jerman.Dikutip dari situs resmi Fortune.com, CATL yang didirikan pada 2011 kini telah menjadi pemasok baterai mobil listrik untuk beberapa pabrikan. Antara lain Volkswagen, BMW, Honda, serta sejumlah merek kendaraan China. Fortune pun pernah memasukkan CATL dalam daftar Fortune Futures 50 pada 2018 lalu, yakni daftar perusahaan yang dianggap sangat potensial di masa depan. Perusahaan lain yang tergabung dalam daftar ini antara lain Spotify, Xiaomi, Tencent, dan Twitter.
Melihat sederet portofolio yang selama ini dikerjakan oleh CATL, rasanya ada harapan besar kerja sama tersebut bisa sukses, tidak saja menjadikan industri baterai nasional berkiprah di level global, tetapi juga memberikan multiplier effect ke perekonomian secara keseluruhan. Di samping itu, yang mesti diingat adalah jangan sampai pada pelaksanaannya nanti, kerja sama itu abai dari upaya alih teknologi dan hanya memberikan akses ke sumber daya alam bagi sang mitra.Tak lupa, nilai investasi dari kerja sama IBC dengan CATAL yang diperkirakan mencapai Rp70 triliun itu diharapkan juga bisa menyerap banyak tenaga kerja lokal sehingga denyut ekonomi yang sempat terganggu karena pandemi bisa kembali menggeliat.
(war)
Lihat Juga :