Generasi Milenial Melek Pasar Modal

Jum'at, 26 Februari 2021 - 05:05 WIB
Selain itu, investor pemula jangan mengorek dana kebutuhan sehari-hari, dana darurat, serta dana kebutuhan jangka pendek untuk diputar di pasar saham. Dan, investor milenial wajib memisahkan anggaran investasi dan dana operasional. Sejumlah rambu-rambu dasar di pasar saham harus dipahami, mulai dari penentuan batas investasi, hingga memahami tujuan dari investasi. Setelah itu, bagaimana mengasah keterampilan berinvestasi dengan memanfaatkan analisis dari profesional. Lalu jangan ketinggalan update berita terkini seputar pasar modal. Jangan percaya mentah-mentah rekomendasi saham dari influencers.

Menarik dicermati, sepanjang pandemi Covid-19 ternyata telah memicu pertumbuhan investor pasar modal di Indonesia. Saat ini investor pasar modal menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, berdasarkan data publikasi BEI total investor pasar modal sudah mencapai sebanyak 3.532.519 per 19 November 2020. Angka itu menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan sekitar 42,19% dari sebanyak 2.484.354 investor pada periode 2019 lalu. Dan, investor BEI sekarang didominasi generasi milenial. Padahal, lima tahun lalu jumlah investor pasar modal baru mencapai 800 ribu.

Adapun penghimpunan dana di pasar modal tercatat Rp118,7 triliun pada tahun lalu. Bersumber dari 169 penawaran umum (PU) di bursa meliputi initial public offering (IPO), penawaran umum terbatas (PUT), penerbitan surat utang. Tercatat 51 perusahaan melakukan IPO dengan nilai emisi Rp6,07 triliun, termasuk pencapaian tertinggi di kawasan ASEAN. Lalu dari PUT terkumpul Rp20,27 triliun, penerbitan dari efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) Rp3,57 triliun. Selanjutnya, penawaran umum berkelanjutan (PUB) EBUS tahap I mencapai sebesar Rp30,5 triliun dan tahap II senilai Rp58,3 triliun. Namun demikian penghimpunan dana tersebut mengalami penurunan hingga 28,93% dibandingkan periode 2019 yang mencapai Rp167 triliun.

Kembali pada kecenderungan kaum milenial yang mulai menjajal pasar modal sebagai sarana berinvestasi yang baik, sebenarnya tidak terlepas dari perkembangan teknologi. Tengok saja, untuk bertransaksi di pasar modal, entah itu saham, obligasi (surat utang) dan reksa dana dapat dilakukan dengan mudah melalui aplikasi. Dan, semakin lancar menyusul pembukaan rekening perbankan yang juga bisa secara online. Lalu, kontribusi dari media sosial yang sedang booming membahas rekomendasi saham jadi pemicu tersendiri masuknya generasi milenial di pasar modal.

Semuanya itu positif untuk menambah jumlah investor di pasar modal, hanya saja harus dibarengi dengan edukasi yang benar, seperti sumber dana yang dipakai jangan dari uang panas atau berisiko. Sebab, berinvestasi di pasar modal, terutama saham, selain berpotensi beri keuntungan besar, juga bisa mendatangkan kerugian yang dalam kalau tidak paham alias kurang edukasi.
(bmm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!