Sosok Intelektual Transformatif

Senin, 08 Februari 2021 - 05:08 WIB
Bagaimana Indonesia tak kehilangan, sosok Mas Fiz begitu luar biasa. Tak hanya pergumulannya di dunia akademik sebagai pakar, melainkan juga kiprahnya dalam membangun peradaban kampus dan profesionalitas dunia korporasi maupun pemerintahan. Capaiannya begitu gemilang! Melesat cepat menembus cakrawala para ilmuwan bereputasi tinggi. Rekam jejak pendidikannya tak ada yang meragukan. Kecerdasannya mulai terlihat sejak menyelesaikan studinya di FE UI hanya dalam waktu 3,5 tahun, lulus pada 1998. Program masternya di bidang organisasi dan manajemen strategis dituntaskannya di University of Lille, Prancis. Kecemerlangannya diperkuat dengan capaian gelar PhD bidang manajemen internasional dan strategis di University of Pau et Payas de l’Adour pada 2005. Jenjang akademiknya pun sampai di puncak capaian dengan dikukuhkannya sebagai guru besar tetap bidang ilmu manajemen strategik FEB UI di usia yang masih sangat muda, yakni 33 tahun.

Mas Fiz tak hanya mencatatkan rekor sebagai guru besar FEB UI di usia muda, tetapi juga sebagai dekan FEB UI termuda yang dijabatnya saat berusia 32 tahun. Dedikasinya panjang membentang. Sejak pulang ke Tanah Air berkhidmat mulai dari sebagai Sekretaris Departemen Manajemen FE UI (2005–2007), Wakil Direktur Program Pascasarjana Ilmu Manajemen FE UI (2007–2008), Kepala Kantor Humas dan Protokol UI (2008) hingga Dekan Fakultas Ekonomi (FE) UI (2009–2013). Saat meninggal, Mas Fiz masih menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina yang diembannya sejak 15 Januari 2015.

Selain di dunia kampus, Mas Fiz juga tercatat pernah aktif di pemerintahan dan korporasi. Pada Juni 2012, Presiden SBY memintanya sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi. Dia sempat menjadi Komisaris PT Perusahaan Gas Negara (2012-2015), anggota Dewan Penasihat Menteri Perikanan dan Kelautan RI (2012–2013), anggota Komite Manajemen Risiko PT CIMB Niaga Tbk (2016–sekarang), anggota Dewan Penasihat Kadin (2016–sekarang), dan lain-lain.

Mas Fiz yang saya kenal merupakan sosok transformatif. Dia memiliki keunggulan dalam memadukan dua kesadaran yang sama pentingnya, yakni kesadaran diskursif (discursive conciousness) dan kesadaran praktis (practical conciousness). Bukan semata pandai berwacana, melainkan juga langkah serta kiprahnya konkret dan dirasakan di berbagai bidang. Sosok visioner, solutif, dan cekatan dalam melakukan refleksivitas organisasi. Poole, Seibold, dan McPhee dalam Hirokawa, RY & M.S Poole di bukunya Communication and Group Decision Making (1986) memandang perlu adanya refleksivitas (reflexivity) dalam setiap upaya membangun perbaikan organisasi.

Refleksivitas pada dasarnya merujuk pada kemampuan aktor untuk memonitor tindakan-tindakan dan perilaku mereka. Sebagian besar refleksivitas didasarkan pada pengalaman masa lalu yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang. Dengan membaca masa lalu dan memperbaikinya, sesungguhnya kita bisa menatap masa depan yang jauh lebih baik. Hal ini tecermin dari beberapa kali saya dan Mas Fiz terlibat dalam perbincangan tentang apa yang sedang dia kerjakan dalam memperbaiki kondisi di Universitas Paramadina sejak 2015. Tekad kuat juga tergambar jelas di berbagai aktivitasnya di setiap organisasi yang dia masuki. Bekerja maksimal, fokus dan meninggalkan warisan baik. Itu beberapa prinsip yang saya tangkap dari obrolan dengannya.

Memperkuat IVL
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!