Impor Bahan Pangan Butuh Solusi Serius
Jum'at, 15 Januari 2021 - 06:10 WIB
Pihak Kementerian Perdagangan (Kemendag) mensinyalir sejumlah faktor penyebab harga kedelai impor meroket dalam masa pandemi Covid-19. Di antaranya gangguan cuaca La Nina di Amerika Latin yang berdampak negatif di Brasil dan Argentina sebagai negara produsen kedelai. Diperparah aksi mogok pekerja logistik dan distribusi di Argentina yang menghambat proses pengiriman kedelai. Selain itu, kenaikan harga kedelai impor juga dipicu tingginya permintaan China. Pada 2019 dan 2020, sebagaimana dituturkan Muhammad Lutfi, seluruh ternak babi di China dimusnahkan karena terjangkit flu babi. Sekarang mulai ternak lagi dengan jumlah sekitar 470 juta yang membutuhkan makanan dari kedelai secara teratur.
Lalu, seberapa besar sebenarnya kebutuhan kedelai di dalam negeri sehingga begitu tergantung pada kedelai impor? Untuk tahun ini, sebagaimana prediksi Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi, Indonesia butuh impor kedelai 2,6 juta ton. Sebagai contoh, kebutuhan kedelai hingga Maret 2021 diprediksi mencapai 278.180 ton, sedang kemampuan produksi dalam negeri baru sebanyak 28.754 ton. Menjadi persoalan serius karena harga kedelai di tingkat distributor terus mengalami kenaikan dan kini sudah mencapai Rp10.000 hingga Rp10.400 per kilogram. Pemerintah mengakui produksi kedelai domestik belum bisa mencapai target potensi yang ada.
Untuk tahun ini, pemerintah menyiapkan lahan 325.000 hektare untuk menggenjot produksi kedelai. Hanya, lahan seluas itu cuma mampu menghasilkan 1,5 juta ton kedelai. Para petani juga kurang berminat menggarap kedelai karena keuntungannya kecil dengan biaya produksi tinggi. Boleh jadi, sama dengan komoditas pangan impor lainnya menjadi tidak ekonomis bila diproduksi di dalam negeri. Ini masalah besar bila tidak ditemukan solusi secepatnya, mengingat penduduk negeri ini yang harus diberi makan mencapai 270 juta.
Lalu, seberapa besar sebenarnya kebutuhan kedelai di dalam negeri sehingga begitu tergantung pada kedelai impor? Untuk tahun ini, sebagaimana prediksi Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi, Indonesia butuh impor kedelai 2,6 juta ton. Sebagai contoh, kebutuhan kedelai hingga Maret 2021 diprediksi mencapai 278.180 ton, sedang kemampuan produksi dalam negeri baru sebanyak 28.754 ton. Menjadi persoalan serius karena harga kedelai di tingkat distributor terus mengalami kenaikan dan kini sudah mencapai Rp10.000 hingga Rp10.400 per kilogram. Pemerintah mengakui produksi kedelai domestik belum bisa mencapai target potensi yang ada.
Untuk tahun ini, pemerintah menyiapkan lahan 325.000 hektare untuk menggenjot produksi kedelai. Hanya, lahan seluas itu cuma mampu menghasilkan 1,5 juta ton kedelai. Para petani juga kurang berminat menggarap kedelai karena keuntungannya kecil dengan biaya produksi tinggi. Boleh jadi, sama dengan komoditas pangan impor lainnya menjadi tidak ekonomis bila diproduksi di dalam negeri. Ini masalah besar bila tidak ditemukan solusi secepatnya, mengingat penduduk negeri ini yang harus diberi makan mencapai 270 juta.
(bmm)
Lihat Juga :