Impor Bahan Pangan Butuh Solusi Serius

Jum'at, 15 Januari 2021 - 06:10 WIB
Persoalan impor kedelai kembali jadi sorotan menyusul langkanya komoditas bahan baku pembuatan tahu dan tempe tersebut di pasaran. (Ilustrasi: SINDONews/Wawan Bastian)
PERSOALAN impor bahan pangan yang tidak ditangani secara tuntas akan menjadi sebuah ancaman serius, terutama impor komoditas pangan yang jumlahnya mencapai jutaan ton. Hal ini bukan masalah baru, namun pemerintah tak kunjung menemukan solusi yang tepat dalam mengatasinya. Menghadapi persoalan klasik tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta aktivitas yang berkaitan dengan pangan harus diseriusi. Dalam arahan pada pembukaan "Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian 2021" awal pekan ini, Presiden Jokowi mengaskan, "Kedelai hati-hati, jagung hati-hati, gula hati-hati yang masih impor jutaan ton. Begitu pula beras, meskipun hampir dua tahun kita enggak impor beras, apakah konsisten bisa kita lakukan tahun-tahun mendatang?," ujarnya. Karena itu, pemerintah sedang mencari cara atau desain yang tepat dalam meminimalkan masalah impor pangan.

Saat ini terdapat tiga komoditas pangan impor yang menjadi sorotan sejak memasuki awal tahun, dari gula, daging, hingga kedelai. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), Indonesia masih defisit gula konsumsi dan industri yang mencapai 3,62 juta ton per tahun. Adapun kebutuhan gula nasional (konsumsi dan industri) mencapai 5,8 juta ton per tahun. Di sisi lain, kemampuan produksi gula dalam negeri baru 2,18 juta ton per tahun.



Selanjutnya komoditas pangan lain yang juga selalu menempati urutan teratas jadi sorotan adalah impor daging sapi dan kerbau, yang jumlahnya selalu pada hitungan ratusan ribu ton per tahun. Untuk tahun ini, berdasarkan hitung-hitungan pihak Kementan, neraca ketersediaan daging sapi dan kerbau tercatat minus 223.000 ton. Dengan demikian, dibutuhkan penambahan dari luar alias impor 281.000 ton, termasuk untuk cadangan pada Januari-Februari 2022. Kebutuhan impor daging sapi dan kerbau tahun ini sudah mulai turun dibandingkan tahun lalu yang mencapai sebanyak 324.019 ton.

Nah, hal yang membuat heboh dalam sepekan ini adalah kelangkaan impor kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe. Dampaknya, makanan favorit masyarakat itu hilang di pasar karena para produsen tempe berhenti berproduksi akibat kelangkaan bahan baku. Tempe sebagai makanan sehari-hari yang disantap masyarakat barangkali masih banyak yang belum tahu kalau bahan utamanya justru harus diimpor dari sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat (AS). Pemerintah, dalam hal ini Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi, mengakui bahwa harga kedelai impor saat ini telah mencetak rekor tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!