Percepat Produksi Vaksin Corona
Jum'at, 17 April 2020 - 06:00 WIB
Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan bahan baku obat sudah didatangkan dari Hyderabad, India, sejak pekan lalu. Nantinya, PT Bio Farma akan memproduksi obat jenis Oseltamivir sebanyak 500.000 tablet. Obat ini dipercaya bisa digunakan untuk pasien virus corona (Covid-19). “Obat ini untuk corona juga seperti chloroquine. Tanggal 9 April kemarin kami ambil, ini memang diam-diam agar tidak bocor dan bisa proses cepat,” tukasnya.
Sebelumnya, PT Dexa Medica melaporkan sudah memproduksi obat-obatan untuk pasien corona. Direktur PT Dexa Medica Hery Sutanto dalam keterangan pers di Graha BNPB, Jakarta (9/4/2020), menyebut langkah yang diambil perusahaannya merupakan upaya pemerintah mengatasi corona. Obat dimaksud adalah hydroxy chloroquine. Obat tersebut sangat ditunggu-tunggu dan bahan bakunya sangat sulit diperoleh.
Perusahaan pelat merah PT Kimia Farma Tbk (KAEF) juga sudah menyatakan kesediaan mampu memproduksi klorokuin yang diyakini mampu mengobati corona. Selain itu, ada obat lain yang juga diklaim bisa menyembuhkan pasien Covid-19, yaitu Avigan. Kedua jenis obat itu telah dipesan Presiden Joko Widodo.
Dari institusi perguruan tinggi negeri, para peneliti Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengaku telah menemukan lima jenis senyawa yang diklaim bisa menjadi obat corona. Rektor Unair Mohammad Nasih bahkan mengklaim lima senyawa itu memiliki daya ikat kepada virus lebih kuat di bandingkan Avigan dan obat malaria chloroquine yang sebelumnya diborong oleh Presiden Joko Widodo demi mengobati pasien corona.
Sayangnya, obat tersebut tidak bisa langsung diproduksi secara massal lantaran masih harus melewati tahapan-tahapan pengujian. Untuk menguji temuan itu, Unair akan membuat laporan di sebuah jurnal ilmiah internasional dan dipublikasikan secara internasional. Dengan demikian, para ahli dunia bisa bersama-sama melakukan pengujian.
Seperti diketahui, Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto mengakui tidak mudah mengatasi corona. Salah satu kendalanya terkait belum tersedianya obat ataupun vaksin untuk saat ini. Sebagai solusi sementara, berdasarkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), tim medis menggunakan tamiflu.
Merespons kondisi tersebut, Komisi IX DPR (4/4/2020) mendesak Menkes untuk berinovasi dengan obat moderen asli Indonesia (OMAI) untuk menciptakan obat dan vaksin guna menanggulangi wabah corona. Komisi IX mendukung penuh upaya penanggulangan Covid-19, tetapi memberikan tujuh catatan.
Salah satu catatannya adalah agar Menkes secara progresif melakukan koordinasi bersama seluruh pihak terkait, termasuk asosiasi alat kesehatan dan industri farmasi untuk pemenuhan obat dan alat-alat kesehatan yang dibutuhkan bagi upaya deteksi, pencegahan, dan respons penanganan corona.
Sebelumnya, PT Dexa Medica melaporkan sudah memproduksi obat-obatan untuk pasien corona. Direktur PT Dexa Medica Hery Sutanto dalam keterangan pers di Graha BNPB, Jakarta (9/4/2020), menyebut langkah yang diambil perusahaannya merupakan upaya pemerintah mengatasi corona. Obat dimaksud adalah hydroxy chloroquine. Obat tersebut sangat ditunggu-tunggu dan bahan bakunya sangat sulit diperoleh.
Perusahaan pelat merah PT Kimia Farma Tbk (KAEF) juga sudah menyatakan kesediaan mampu memproduksi klorokuin yang diyakini mampu mengobati corona. Selain itu, ada obat lain yang juga diklaim bisa menyembuhkan pasien Covid-19, yaitu Avigan. Kedua jenis obat itu telah dipesan Presiden Joko Widodo.
Dari institusi perguruan tinggi negeri, para peneliti Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengaku telah menemukan lima jenis senyawa yang diklaim bisa menjadi obat corona. Rektor Unair Mohammad Nasih bahkan mengklaim lima senyawa itu memiliki daya ikat kepada virus lebih kuat di bandingkan Avigan dan obat malaria chloroquine yang sebelumnya diborong oleh Presiden Joko Widodo demi mengobati pasien corona.
Sayangnya, obat tersebut tidak bisa langsung diproduksi secara massal lantaran masih harus melewati tahapan-tahapan pengujian. Untuk menguji temuan itu, Unair akan membuat laporan di sebuah jurnal ilmiah internasional dan dipublikasikan secara internasional. Dengan demikian, para ahli dunia bisa bersama-sama melakukan pengujian.
Seperti diketahui, Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto mengakui tidak mudah mengatasi corona. Salah satu kendalanya terkait belum tersedianya obat ataupun vaksin untuk saat ini. Sebagai solusi sementara, berdasarkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), tim medis menggunakan tamiflu.
Merespons kondisi tersebut, Komisi IX DPR (4/4/2020) mendesak Menkes untuk berinovasi dengan obat moderen asli Indonesia (OMAI) untuk menciptakan obat dan vaksin guna menanggulangi wabah corona. Komisi IX mendukung penuh upaya penanggulangan Covid-19, tetapi memberikan tujuh catatan.
Salah satu catatannya adalah agar Menkes secara progresif melakukan koordinasi bersama seluruh pihak terkait, termasuk asosiasi alat kesehatan dan industri farmasi untuk pemenuhan obat dan alat-alat kesehatan yang dibutuhkan bagi upaya deteksi, pencegahan, dan respons penanganan corona.
Lihat Juga :