Perasaan Tidak Adil Picu Kebersamaan Kolektif Berhimpun dalam Kelompok Alumni 212
Kamis, 03 Desember 2020 - 13:22 WIB
Dia menuturkan Societal forces (kekuatan sosial) atau kelompok strategis diperlukan untuk melakukan pressure terhadap pengambil kebijakan terkait kebijakan publik yang dinilai merugikan rakyat. "Sebagai kelompok kepentingan atau pressure group, societal forces atau civil society akan melakukan kritisisi thd kebijakan-kebijakan yang dinilai merugikan rakyat," tandasnya.
Dia melanjutkan sejak 1999 jumlah societal forces bertambah dan mereka sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah. Apalagi dengan adanya pemilu dan pilkada langsung, dia membeberkan jumlahnya tak hanya bertambah tapi juga makin terfragmentasi. (Baca juga:Tokoh Oposisi Kumpul di Dialog Nasional 212, Kekuatan Baru Pemilu 2024?)
"Munculnya 212 tak bisa dilepaskan dari adanya akumulasi rasa kecewa dan tidak puas karena aspirasi mereka yang tidak diakomodasi. Perasaan tidak adil telah memicu kebersamaan kolektif mereka tetap berhimpun dalam komunitas 212," pungkasnya.
Dia melanjutkan sejak 1999 jumlah societal forces bertambah dan mereka sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah. Apalagi dengan adanya pemilu dan pilkada langsung, dia membeberkan jumlahnya tak hanya bertambah tapi juga makin terfragmentasi. (Baca juga:Tokoh Oposisi Kumpul di Dialog Nasional 212, Kekuatan Baru Pemilu 2024?)
"Munculnya 212 tak bisa dilepaskan dari adanya akumulasi rasa kecewa dan tidak puas karena aspirasi mereka yang tidak diakomodasi. Perasaan tidak adil telah memicu kebersamaan kolektif mereka tetap berhimpun dalam komunitas 212," pungkasnya.
(kri)
Lihat Juga :