Perkuat Sikap Toleransi lewat Pendekatan Sosial Budaya
Jum'at, 20 November 2020 - 10:20 WIB
Dia menyarankan sebaiknya pemerintah menggalakkan kegiatan-kegiatan seni budaya di masing-masing wilayah itu. Seperti kalau di Yogyakarta hampir setiap sekolah ada gamelan.
Gamelan, kata dia, jangan sekadar dimiliki, tetapi itu harus menjadi instrumen untuk pendidikan karakternya.
”Semestinya jam pelajaran seni dan budaya ditambah, bukan malah dikurangi. Sekarang ini yang ditambah malah pelajaran agama, sementara yang dikurangi justru malah pelajaran seni dan budayanya. Yang perlu dilakukan, kalau mau agak sestematik dan jangka panjang untuk menangkal intoleranssi di lingkungan sekolah yaitu mealui penanaman sosial, seni dan budaya itu tadi,” paparnya.(Baca juga: Sekjen PBB Tanggapi Positif Ajakan Jokowi untuk Perkuat Toleransi )
Menurut dia, jika metode yang digunakan seperti Penataran P-4 menurutnya tidak akan signifikan. Apalagi dia menyampaikan bahwa Rohis (Rohani Islam) di sekolah itu sudah menjadi kekuatan tersendiri.
Padahal pembinaan pendidikan agama Islam itu lebih baik di lakukan oleh guru agama, bukan malah dilakukan oleh seniornya atau mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah tersebut..
”Kalau misalkan untuk mengurangi kebosanan karena pelajaran agama juga ketemu guru agama maka bisa mendatangkan ustaz-ustaz yang paham kebangsaannya yang tinggi. Jangan diserahkan kepada mahasiswa atau seniornnya,” tuturnya.
Dia mengakui tidak mudah untuk mengikis "virus" intoleransi yang ada di lingkungan sekolah saat ini karena penyebarannya sudah sistematis. Hal ini dikarenakan guru-gurunya rata-rata juga sudah terkontaminasi. Yang mana hal ini tentunya sangat berbeda dengan di jaman sebekum tahun 90-an yang mana guru-guru itu relatif belum terkontaminasi oleh berbagai aliran.
Gamelan, kata dia, jangan sekadar dimiliki, tetapi itu harus menjadi instrumen untuk pendidikan karakternya.
”Semestinya jam pelajaran seni dan budaya ditambah, bukan malah dikurangi. Sekarang ini yang ditambah malah pelajaran agama, sementara yang dikurangi justru malah pelajaran seni dan budayanya. Yang perlu dilakukan, kalau mau agak sestematik dan jangka panjang untuk menangkal intoleranssi di lingkungan sekolah yaitu mealui penanaman sosial, seni dan budaya itu tadi,” paparnya.(Baca juga: Sekjen PBB Tanggapi Positif Ajakan Jokowi untuk Perkuat Toleransi )
Menurut dia, jika metode yang digunakan seperti Penataran P-4 menurutnya tidak akan signifikan. Apalagi dia menyampaikan bahwa Rohis (Rohani Islam) di sekolah itu sudah menjadi kekuatan tersendiri.
Padahal pembinaan pendidikan agama Islam itu lebih baik di lakukan oleh guru agama, bukan malah dilakukan oleh seniornya atau mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah tersebut..
”Kalau misalkan untuk mengurangi kebosanan karena pelajaran agama juga ketemu guru agama maka bisa mendatangkan ustaz-ustaz yang paham kebangsaannya yang tinggi. Jangan diserahkan kepada mahasiswa atau seniornnya,” tuturnya.
Dia mengakui tidak mudah untuk mengikis "virus" intoleransi yang ada di lingkungan sekolah saat ini karena penyebarannya sudah sistematis. Hal ini dikarenakan guru-gurunya rata-rata juga sudah terkontaminasi. Yang mana hal ini tentunya sangat berbeda dengan di jaman sebekum tahun 90-an yang mana guru-guru itu relatif belum terkontaminasi oleh berbagai aliran.
Lihat Juga :