Menjemput Pangan Berkeadilan dan Lestari
Senin, 19 Oktober 2020 - 06:36 WIB
Joshua Breinhmamana
Joshua Breinhmamana
Anggota Himpunan Gambut Indonesia, Alumnus IPB University
KITA baru saja memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober 2020. Momen tepat untuk kembali menata peta jalan komitmen global melawan kelaparan dan kemiskinan di tengah pertumbuhan penduduk yang kian melesat.
Divisi Populasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN) lewat laporannya dalam World Population Prospect menjelaskan, jumlah penduduk dunia akan mencapai 10,6 miliar orang pada 2050. Memang betul pernyataan Malthus bahwa pertumbuhan penduduk cenderung eksponensial dalam deret ukur. Tetapi, kepunahan massal penduduk dunia yang diserukan oleh Malthus sejak 1789 hingga hari ini tidak terbukti. Improvisasi teknologi dalam menghasilkan pangan bagi penduduk dunia membantah premis Malthus. Agenda menambah pasokan demi ketahanan pangan masih berjalan dalam jalurnya.
Lantas bagaimana potret ketahanan pangan kontemporer, khususnya di Indonesia? Ternyata skor Global Food Security Index (GFSI) Indonesia menunjukkan tren peningkatan sejak 2015 (46,7) sampai 2019 (62,6). Pada 2019 skor GFSI tercatat bertumbuh sebesar 12,46% (yoy) lebih tinggi dibandingkan 2018 (6,39%). Hal ini diikuti dengan membaiknya peringkat Indonesia ke posisi 62 dari 113 negara, yang sebelumnya di peringkat ke-65. Indeks ketahanan pangan global tersebut dipengaruhi tiga faktor, yakni akses masyarakat terhadap pangan (affordability), ketersediaan pangan (availability), dan kualitas dan keamanan pangan (quality and safety). Sayangnya, skor kualitas dan keamanan pangan Indonesia tergolong rendah (47,1) dibanding beberapa negara yang peringkat GFSI-nya secara beruntun ada di bawah Indonesia seperti Ekuador (58,4), Yordania (54,2), dan Filipina (50,3). Ini membuktikan bahwa kita masih memiliki tugas rumah dalam penyediaan pangan berkualitas dan aman.
Meski GFSI Indonesia bertumbuh pada 2019, bukan berarti bayangan kerawanan pangan sekejap hilang pada tahun ini. Jika dihitung, tujuh bulan sudah pandemi Covid-19 hidup berdampingan dengan kita. Realita ini memberi pukulan telak bagi mereka yang bekerja dan mendapat upah harian. Bahkan, ada jutaan masyarakat yang harus menelan pil pahit karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Dampaknya angka kemiskinan merangsek naik.
Anggota Himpunan Gambut Indonesia, Alumnus IPB University
KITA baru saja memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober 2020. Momen tepat untuk kembali menata peta jalan komitmen global melawan kelaparan dan kemiskinan di tengah pertumbuhan penduduk yang kian melesat.
Divisi Populasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN) lewat laporannya dalam World Population Prospect menjelaskan, jumlah penduduk dunia akan mencapai 10,6 miliar orang pada 2050. Memang betul pernyataan Malthus bahwa pertumbuhan penduduk cenderung eksponensial dalam deret ukur. Tetapi, kepunahan massal penduduk dunia yang diserukan oleh Malthus sejak 1789 hingga hari ini tidak terbukti. Improvisasi teknologi dalam menghasilkan pangan bagi penduduk dunia membantah premis Malthus. Agenda menambah pasokan demi ketahanan pangan masih berjalan dalam jalurnya.
Lantas bagaimana potret ketahanan pangan kontemporer, khususnya di Indonesia? Ternyata skor Global Food Security Index (GFSI) Indonesia menunjukkan tren peningkatan sejak 2015 (46,7) sampai 2019 (62,6). Pada 2019 skor GFSI tercatat bertumbuh sebesar 12,46% (yoy) lebih tinggi dibandingkan 2018 (6,39%). Hal ini diikuti dengan membaiknya peringkat Indonesia ke posisi 62 dari 113 negara, yang sebelumnya di peringkat ke-65. Indeks ketahanan pangan global tersebut dipengaruhi tiga faktor, yakni akses masyarakat terhadap pangan (affordability), ketersediaan pangan (availability), dan kualitas dan keamanan pangan (quality and safety). Sayangnya, skor kualitas dan keamanan pangan Indonesia tergolong rendah (47,1) dibanding beberapa negara yang peringkat GFSI-nya secara beruntun ada di bawah Indonesia seperti Ekuador (58,4), Yordania (54,2), dan Filipina (50,3). Ini membuktikan bahwa kita masih memiliki tugas rumah dalam penyediaan pangan berkualitas dan aman.
Meski GFSI Indonesia bertumbuh pada 2019, bukan berarti bayangan kerawanan pangan sekejap hilang pada tahun ini. Jika dihitung, tujuh bulan sudah pandemi Covid-19 hidup berdampingan dengan kita. Realita ini memberi pukulan telak bagi mereka yang bekerja dan mendapat upah harian. Bahkan, ada jutaan masyarakat yang harus menelan pil pahit karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Dampaknya angka kemiskinan merangsek naik.
Lihat Juga :