Resesi Tinggal Tunggu Pengumuman BPS

Jum'at, 25 September 2020 - 06:35 WIB
Selanjutnya, mekanisme stimulus jangan terpaku pada pihak perbankan saja, seharusnya dapat melibatkan koperasi lebih serius sehingga bisa menjaring lebih banyak UMKM yang belum tersentuh oleh pihak perbankan. Ekonom Bhima yang cukup rajin mengkritisi setiap kebijakan ekonomi menilai dari awal konsep stimulus pemerintah terlalu fokus pada perbankan. Mulai dari penempatan dana untuk restrukturisasi kredit hingga menyalurkan bantuan produktif pada UMKM lewat perbankan. Padahal, sebelum pandemi Covid-19 pada umumnya UMKM masuk dalam kategori unbankable atau tidak layak mendapat pinjaman bank. Dan, penanganan pandemi Covid-19 lebih serius lagi dengan menyelaraskan koordinasi antar kementerian dan lembaga yang ada.

Memang, fakta lapangan membuktikan bahwa anggaran PEN sebesar Rp695 triliun yang diharapkan dapat menghidupkan mesin pertumbuhan ekonomi guna menghadang resesi ekonomi ternyata tidak sesuai harapan. Tingkat penyerapan dana PEN belum mencapai separuh dari angka yang dianggarkan, tercatat baru terserap sebesar Rp240,9 triliun. Dari angka yang terserap itu sebanyak Rp87,5 triliun digelontorkan oleh Satuan Tugas (Satgas) PEN dan akan ditingkatkan menjadi Rp100 triliun hingga akhir September 2020.

Lalu bagaimana masyarakat menyikapi resesi ekonomi? Tentu, langkah pertama, adalah jangan panik menghadapi situasi. Khawatir boleh tetapi jangan panik sebab dapat memicu dampak resesi ekonomi lebih besar lagi. Selain itu, mengurangi tingkat konsumsi yang berlebihan, termasuk menunda membeli barang yang sifatnya sekunder sebagai antisipasi bila resesi berlangsung lama. Jangan lupa menyiapkan dana darurat sebagai kesiapan bila terkena PHK. Tetap waspada dan jangan panik.
(ras)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!