Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI

Kamis, 18 Juni 2026 - 08:26 WIB
Fitrianta Eka Prasaja ASN di Badan Siber dan Sandi Negara serta Pemerhati Perang Informasi dan Kecerdasan Buatan. Foto/istimewa
Fitrianta Eka Prasaja

ASN di Badan Siber dan Sandi Negara serta Pemerhati Perang Informasi dan Kecerdasan Buatan



BELAKANGAN ini, peringatan "jangan percaya semua yang dilihat di media sosial" semakin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Ungkapan tersebut tidak lagi sekadar nasihat, melainkan refleksi dari realitas baru: ruang informasi kita kini dipenuhi narasi yang sulit diverifikasi, diproduksi secara masif, dan dirancang untuk menggugah emosi.

Fenomena ini oleh sejumlah peneliti disebut sebagai "slopaganda", gabungan dari "slop", yaitu konten massal berkualitas rendah yang dihasilkan kecerdasan buatan, dan propaganda klasik. Jika propaganda tradisional membutuhkan waktu, riset, dan koordinasi, slopaganda bekerja dengan logika yang berbeda: cepat, adaptif, dan berskala besar. Dalam hitungan jam, ribuan variasi narasi dapat diproduksi dan disebarkan ke berbagai platform, dari TikTok hingga WhatsApp.

Indonesia menjadi lahan yang subur bagi perkembangan ini. Dengan lebih dari 200 juta pengguna internet dan dominasi media sosial sebagai sumber informasi, algoritma platform digital kini berperan sebagai penentu realitas bagi banyak orang. Konten yang muncul di linimasa bukanlah yang paling akurat, melainkan yang paling mampu menarik perhatian.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!