Ancaman Karhutla: Dari Pemadaman Api Menuju Pencegahan Hotspot

Kamis, 02 April 2026 - 16:44 WIB
Dalam sejumlah penelitian yang penulis lakukan di Universitas Palangka Raya, ditemukan fakta menarik bahwa stabilitas muka air tanah merupakan kunci utama dalam pencegahan kebakaran. Dengan kata lain, gambut yang tetap basah hampir mustahil terbakar.

Di sinilah anomali terjadi, dimana pemerintah selama ini melihat gambut sebagai “api yang harus dipadamkan”. Maka respons pertama ketika api muncul, tim atau Satgas dikerahkan, lalu air dipompa, dan sumber daya difokuskan untuk mematikan api. Sepintas, metode ini tidak salah, namun hanya bersifat reaktif, dengan skala terbatas dan sering kali terlambat. Padahal sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Dayak di Kalimantan sudah memiliki “mekanisme pengendalian” api di lahan garapan yang dikuasai secara tradisional.

Di samping itu, strategi yang lebih efektif adalah pencegahan berbasis ekosistem. Artinya, kita harus memastikan bahwa kondisi gambut tidak memungkinkan terjadinya kebakaran sejak awal.

Salah satu konsep yang penulis kembangkan bersama tim adalah metode rewetting atau pembasahan kembali lahan gambut. Dengan membangun sekat kanal dan mengembalikan fungsi hidrologi alami, kita dapat menjaga kelembapan gambut sepanjang tahun.

Ini bukan solusi instan, tetapi terbukti efektif dalam jangka panjang. Semua upaya itu tidak mungkin dilakukan tanpa keterlibatan masyarakat lokal. Oleh karenanya, dalam setiap riset gambut, kami menempatkan masyarakat bukan sebagai objek, melainkan subjek. Dari mereka kami juga belajar mengenai kearifan lokal dan tradisi. Bila semua itu didukung dengan teknologi, akan menghasilkan inovasi dan perubahan.

Sebaliknya, bila mereka “dilupakan” dalam program ini, maka yang terjadi bukan hanya ancaman api, melainkan juga penurunan kemampuan ekonomi komunitas. Dalam banyak temuan, akibat adanya tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat,mereka dipaksa (kembali) melakukan pembakaransebagai cara termurah untuk membuka lahan.

Oleh karena itu, sisi teknis harus diiringi dengan pendekatan sosial-ekonomi. Sebagaimana ditulis oleh Luca Tacconi, program pemberdayaan masyarakat, seperti pengembangan pertanian tanpa bakar dan diversifikasi mata pencaharian, menjadi elemen penting dalam strategi pengendalian kebakaran. Pasalnya, tanpa alternatif yang layak, larangan semata tidak akan efektif.

Peta Risiko Kebakaran

Faktor berikutnya setelah pelibatan masyarakat, adalah pemanfaatan teknologi. Kemajuan teknologi memberikan kita alat yang sebelumnya tidak tersedia. Sistem pemantauan berbasis satelit, sensor kelembapan tanah, dan model prediksi kebakaran memungkinkan deteksi dini potensi kebakaran.

Namun, teknologi hanyalah alat. Efektivitasnya bergantung pada integrasi dengan kebijakan dan kesiapsiagaan di tingkat lokal. Sistem peringatan dini harus diikuti dengan respons cepat di lapangan. Dalam beberapa proyek kolaboratif, kami mengembangkan model indeks kerentanan kebakaran gambut yang menggabungkan data hidrologi, cuaca, dan penggunaan lahan. Model ini membantu menentukan wilayah prioritas untuk intervensi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!