Talent Hoarding: Ketika Prestasi Kerja Malah Jadi Bumerang yang Berbahaya

Selasa, 31 Maret 2026 - 16:12 WIB
Konsep yang diperkenalkan oleh Bregenzer et al. (2020) ini bukanlah sekadar jargon. Bregenzer mendefinisikan HPL sebagai gaya kepemimpinan di mana atasan secara aktif menunjukkan kesadaran, kepedulian, dan tindakan nyata untuk melindungi kesehatan bawahannya. Pemimpin sejati dalam kacamata HPL wajib memiliki keterampilan mendengarkan (listening skills) yang baik serta kepekaan tingkat tinggi terhadap tanda-tanda kelelahan (burnout) pada timnya.

Di tengah badai workload yang gila-gilaan, atasan dengan pendekatan HPL akan bertindak sebagai tameng (buffer) yang meredam stres, berani memberikan empati, menyesuaikan tenggat waktu, dan mendorong keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance). Sayangnya, realita di lapangan sering kali menunjukkan pegawai menyoroti kepemimpinan yang dirasa kurang beretika, yang justru memperburuk iklim pengembangan karier.

Akhirnya, membiarkan talent hoarding hidup subur sama saja dengan memasang bom waktu bagi birokrasi kita. Kehilangan talenta terbaik karena kesehatan mental mereka ambruk adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar oleh negara. Untuk membongkar praktik ini, beberapa langkah radikal harus segera diambil:

Pertama, Audit Silang Manajemen Talenta: Biro SDM harus turun tangan menjadi wasit yang adil, menggunakan data berbasis bukti (evidence-based) untuk melacak unit kerja mana yang "menimbun" pegawai bintangnya.

Kedua, Evaluasi Pemimpin Berbasis Empati: Penilaian kinerja manajerial tidak boleh lagi hanya melihat capaian output dokumen. Kompetensi Health Promoting Leadership harus menjadi modul wajib dan indikator kunci dalam memastikan pemimpin mampu menjaga pemerataan beban kerja dan kesejahteraan tim.

Ketiga, Pemerataan Beban Kerja: Hentikan kebiasaan melempar semua pekerjaan kepada satu-dua orang pegawai yang bisa diandalkan. Harus ada paksaan struktural untuk mendistribusikan pekerjaan secara merata dan mengembangkan kompetensi pegawai lainnya.

Kesejahteraan mental dan fisik abdi negara adalah fondasi bagi pelayanan publik yang prima. Jika birokrasi terus mempraktikkan punish the competence dengan memenjarakan karier pegawai berprestasi dan memeras tenaga mereka hingga tetes terakhir, jangan kaget jika di masa depan, tidak ada lagi abdi negara yang mau tampil cemerlang. Mereka akan memilih menjadi biasa-biasa saja, demi bertahan hidup.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!