NU di Abad Kedua
Kamis, 29 Januari 2026 - 11:56 WIB
Memasuki abad kedua, tantangan NU hadir dengan wajah baru. Fragmentasi otoritas keagamaan di era digital, ketimpangan ekonomi yang melebar, krisis lingkungan yang nyata, serta kegelisahan sosial generasi muda adalah persoalan konkret yang langsung menyentuh basis sosial NU. Dalam situasi ini, NU tidak cukup berhenti pada seruan normatif tentang moderasi, persatuan, atau kebangsaan. Semua itu penting, tetapi tidak lagi memadai jika tidak diturunkan ke dalam langkah nyata.
Langkah paling mendasar adalah menegaskan kembali pesantren sebagai pusat produksi pengetahuan, bukan sekadar ruang pelestarian tradisi. Pesantren harus didorong menjadi ruang lahirnya tafsir keislaman yang menjawab persoalan ketidakadilan sosial, krisis ekologis, etika ekonomi, dan tantangan kemanusiaan global dengan bahasa yang membumi dan dapat dipahami publik luas.
Bersamaan dengan itu, NU perlu melakukan reorientasi kaderisasi. Abad kedua menuntut kader yang tidak hanya loyal secara strutural, tetapi matang secara intelektual dan sosial. NU memerlukan lebih banyak ulama-intelektual dan intelektual-ulama yang mampu bergerak lintas ruang: pesantren, kampus, masyarakat sipil, dan ruang digital. Tanpa kader semacam ini, NU berisiko kehilangan peran sebagai produsen gagasan dan terjebak sebagai pengelola simbol semata.
NU juga dituntut bersuara lebih tegas dalam isu keadilan sosial dan krisis lingkungan. Ketimpangan ekonomi dan kerusakan ekologis bukan persoalan teknis, melainkan persoalan moral. Jika NU lahir sebagai respons terhadap penjajahan dan ketidakadilan struktural, maka abad kedua menuntut keberpihakan yang sama terhadap kelompok rentan, petani, buruh, dan masyarakat yang terdampak krisis iklim.
Selain itu, NU harus secara sadar memperkuat kehadiran intelektual di ruang publik digital. Abad kedua adalah abad perebutan makna. Otoritas keagamaan tidak runtuh karena kekurangan tradisi, tetapi karena kalah hadir dalam wacana. NU tidak boleh puas hadir secara simbolik: ia harus hadir melalui argumen, pengetahuan, dan narasi yang bernas agar ruang publik tidak diuasai oleh simplifikasi agama dan ekstrimisme.
Perayaan satu abad Hijriyah telah menegaskan identitas dan tradisi NU. Sementara peringatan 31 Januari 2026 menandai sesuatu yang lebih berat: tanggung jawab sejarah memasuki abad kedua. Ini bukan lagi soal bertahan, melainkan soal memimpin.
Sejarah telah menunjukan bahwa NU lahir untuk menghadapi dunia Islam yang runtuh dan bangsa yang terjajah. Jika kesadaran historis itu terus dirawat, NU tidak akan terjebak nostalgia masa lalu atau kehilangan arah di tengah perubahan. Sebaliknya, NU akan tetap manjadi jangkar moral bangsa –Islam yang membumi, berakal sehat dan berdaya di abad keduanya.
Langkah paling mendasar adalah menegaskan kembali pesantren sebagai pusat produksi pengetahuan, bukan sekadar ruang pelestarian tradisi. Pesantren harus didorong menjadi ruang lahirnya tafsir keislaman yang menjawab persoalan ketidakadilan sosial, krisis ekologis, etika ekonomi, dan tantangan kemanusiaan global dengan bahasa yang membumi dan dapat dipahami publik luas.
Bersamaan dengan itu, NU perlu melakukan reorientasi kaderisasi. Abad kedua menuntut kader yang tidak hanya loyal secara strutural, tetapi matang secara intelektual dan sosial. NU memerlukan lebih banyak ulama-intelektual dan intelektual-ulama yang mampu bergerak lintas ruang: pesantren, kampus, masyarakat sipil, dan ruang digital. Tanpa kader semacam ini, NU berisiko kehilangan peran sebagai produsen gagasan dan terjebak sebagai pengelola simbol semata.
NU juga dituntut bersuara lebih tegas dalam isu keadilan sosial dan krisis lingkungan. Ketimpangan ekonomi dan kerusakan ekologis bukan persoalan teknis, melainkan persoalan moral. Jika NU lahir sebagai respons terhadap penjajahan dan ketidakadilan struktural, maka abad kedua menuntut keberpihakan yang sama terhadap kelompok rentan, petani, buruh, dan masyarakat yang terdampak krisis iklim.
Selain itu, NU harus secara sadar memperkuat kehadiran intelektual di ruang publik digital. Abad kedua adalah abad perebutan makna. Otoritas keagamaan tidak runtuh karena kekurangan tradisi, tetapi karena kalah hadir dalam wacana. NU tidak boleh puas hadir secara simbolik: ia harus hadir melalui argumen, pengetahuan, dan narasi yang bernas agar ruang publik tidak diuasai oleh simplifikasi agama dan ekstrimisme.
Perayaan satu abad Hijriyah telah menegaskan identitas dan tradisi NU. Sementara peringatan 31 Januari 2026 menandai sesuatu yang lebih berat: tanggung jawab sejarah memasuki abad kedua. Ini bukan lagi soal bertahan, melainkan soal memimpin.
Sejarah telah menunjukan bahwa NU lahir untuk menghadapi dunia Islam yang runtuh dan bangsa yang terjajah. Jika kesadaran historis itu terus dirawat, NU tidak akan terjebak nostalgia masa lalu atau kehilangan arah di tengah perubahan. Sebaliknya, NU akan tetap manjadi jangkar moral bangsa –Islam yang membumi, berakal sehat dan berdaya di abad keduanya.
(rca)
Lihat Juga :