Muktamar NU dan Jalan yang Lurus
Rabu, 21 Januari 2026 - 21:48 WIB
Di sinilah letak pekerjaan rumah terbesar NU. Muktamar yang dipercepat tidak cukup hanya cepat, tetapi harus lurus. Lurus dalam prosedur, terbuka dalam proses, dan beradab dalam perbedaan. Muktamar yang diselenggarakan secara tergesa, eksklusif, atau sarat intrik justru berpotensi mengulang persoalan yang hendak diselesaikan melalui islah.
Sejarah NU menunjukkan bahwa muktamar yang dikenang secara positif adalah muktamar yang memberi ruang luas bagi musyawarah, menghargai perbedaan, dan menempatkan kepentingan jam’iyyah di atas kepentingan faksi. Sebaliknya, muktamar yang meninggalkan luka biasanya adalah muktamar yang prosesnya dipersepsikan tidak adil, tidak transparan, dan minim kepekaan etis.
Kita sering berharap NU dipimpin oleh figur yang arif, adil, dan meneduhkan. Namun pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah proses yang kita bangun memungkinkan lahirnya kebijaksanaan itu? Watak kepemimpinan selalu merupakan pantulan dari watak proses yang melahirkannya. Proses yang jernih melahirkan kewibawaan; proses yang keruh melahirkan kerapuhan.
Hidup kekuasaan bersifat sementara, tetapi kehidupan nilai bersifat panjang. NU tidak hanya besar karena jumlah pengikutnya, melainkan karena kemampuannya menjaga kesinambungan nilai lintas generasi. Muktamar adalah salah satu mekanisme utama pewarisan nilai tersebut—ruang di mana etika, sejarah, dan masa depan bertemu.
Tulisan ini didedikasikan sebagai pengingat bahwa muktamar NU ke depan bukan hanya tentang memilih pemimpin baru, melainkan tentang menjaga integritas moral jam’iyyah. Islah telah membuka jalan. Kini, muktamar harus membuktikan bahwa NU mampu berjalan di atas jalan yang lurus—jalan yang berakar pada sejarah, disinari nilai, dan dijaga dengan adab.
Sejarah NU menunjukkan bahwa muktamar yang dikenang secara positif adalah muktamar yang memberi ruang luas bagi musyawarah, menghargai perbedaan, dan menempatkan kepentingan jam’iyyah di atas kepentingan faksi. Sebaliknya, muktamar yang meninggalkan luka biasanya adalah muktamar yang prosesnya dipersepsikan tidak adil, tidak transparan, dan minim kepekaan etis.
Kita sering berharap NU dipimpin oleh figur yang arif, adil, dan meneduhkan. Namun pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah proses yang kita bangun memungkinkan lahirnya kebijaksanaan itu? Watak kepemimpinan selalu merupakan pantulan dari watak proses yang melahirkannya. Proses yang jernih melahirkan kewibawaan; proses yang keruh melahirkan kerapuhan.
Hidup kekuasaan bersifat sementara, tetapi kehidupan nilai bersifat panjang. NU tidak hanya besar karena jumlah pengikutnya, melainkan karena kemampuannya menjaga kesinambungan nilai lintas generasi. Muktamar adalah salah satu mekanisme utama pewarisan nilai tersebut—ruang di mana etika, sejarah, dan masa depan bertemu.
Tulisan ini didedikasikan sebagai pengingat bahwa muktamar NU ke depan bukan hanya tentang memilih pemimpin baru, melainkan tentang menjaga integritas moral jam’iyyah. Islah telah membuka jalan. Kini, muktamar harus membuktikan bahwa NU mampu berjalan di atas jalan yang lurus—jalan yang berakar pada sejarah, disinari nilai, dan dijaga dengan adab.
(rca)
Lihat Juga :