Iran 2026: Ketika Negara Kehilangan Masa Depan Rakyatnya
Selasa, 13 Januari 2026 - 13:13 WIB
Tetapi karisma tidak diturunkan, dan tradisi tidak mampu menjelaskan harga roti. Ketika sebuah rezim teokratis kehilangan legitimasi spiritual, tetapi tidak mampu menggantinya dengan legitimasi legal-rasional, maka yang tersisa hanyalah aparatus yang represif melalui aparat keamanan, sensor, dan propaganda. Dan, seperti yang diingatkan Max Weber, kekuasaan tanpa legitimasi hanya menciptakan ketakutan, bukan kepatuhan.
Pemerintah mungkin mengklaim legitimasi spiritual, tetapi generasi muda menilai legitimasi dalam ukuran yang jauh lebih praktis: harga makanan, akses internet, kebebasan berpendapat, dan kesempatan kerja. Namun, kita juga tidak boleh jatuh pada simplifikasi yang heroik: bahwa rakyat melawan, lalu negara jahat, dan sejarah akan memihak yang benar.
Realitas yang ada hari ini lebih rumit dari itu. Di beberapa kota, aparat keamanan juga berasal dari keluarga miskin, dari kelas sosial yang sama dengan para demonstran.
Ini bukan perang antara dua bangsa, tetapi antara dua visi tentang Iran masa depan: satu visi yang percaya bahwa masa depan dapat dikendalikan dari podium religius dan ruang rapat tertutup; satu visi lain yang percaya bahwa masa depan lahir dari keterbukaan, kreativitas, dan penghargaan atas martabat individu.
Pertanyaan besar yang kini terbit adalah bukan apakah rezim akan bertahan atau runtuh, karena pertanyaan ini terlalu simplistik. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Iran mampu berdamai dengan generasi mudanya sendiri.
Negara-negara yang gagal berdamai dengan generasi mudanya akan menjumpai hukum sosial yang keras: generasi muda tidak bisa dibunuh, tidak bisa diasingkan, dan tidak bisa dibungkam selamanya; mereka hanya bisa diwariskan masa depan atau menciptakannya sendiri. Untuk beberapa derajat, kita sudah menyaksikan fenomena amarah generasi muda itu di Nepal, Bangladesh, Filipina dan Indonesia, untuk menyebut beberapa.
Pada akhirnya, krisis Iran 2026 bukan hanya tentang Iran. Ia adalah cermin bagi dunia Muslim, bagi Asia, bahkan bagi negara-negara demokrasi di Global South, yang sedang pincang. Ia mengingatkan bahwa negara tidak bisa menjanjikan stabilitas tanpa harapan, bahwa sensor tidak bisa menggusur imajinasi, dan bahwa legitimasi adalah pondasi paling rapuh sekaligus paling menentukan dari setiap kekuasaan.
Dalam sejarah politik, tidak ada yang lebih berbahaya bagi sebuah rezim selain rakyat, terutama generasi muda, yang berhenti percaya. Jika tidak ada kepercayaan lagi, maka kejatuhan rejim hanya menunggu waktu.
Pemerintah mungkin mengklaim legitimasi spiritual, tetapi generasi muda menilai legitimasi dalam ukuran yang jauh lebih praktis: harga makanan, akses internet, kebebasan berpendapat, dan kesempatan kerja. Namun, kita juga tidak boleh jatuh pada simplifikasi yang heroik: bahwa rakyat melawan, lalu negara jahat, dan sejarah akan memihak yang benar.
Realitas yang ada hari ini lebih rumit dari itu. Di beberapa kota, aparat keamanan juga berasal dari keluarga miskin, dari kelas sosial yang sama dengan para demonstran.
Ini bukan perang antara dua bangsa, tetapi antara dua visi tentang Iran masa depan: satu visi yang percaya bahwa masa depan dapat dikendalikan dari podium religius dan ruang rapat tertutup; satu visi lain yang percaya bahwa masa depan lahir dari keterbukaan, kreativitas, dan penghargaan atas martabat individu.
Pertanyaan besar yang kini terbit adalah bukan apakah rezim akan bertahan atau runtuh, karena pertanyaan ini terlalu simplistik. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Iran mampu berdamai dengan generasi mudanya sendiri.
Negara-negara yang gagal berdamai dengan generasi mudanya akan menjumpai hukum sosial yang keras: generasi muda tidak bisa dibunuh, tidak bisa diasingkan, dan tidak bisa dibungkam selamanya; mereka hanya bisa diwariskan masa depan atau menciptakannya sendiri. Untuk beberapa derajat, kita sudah menyaksikan fenomena amarah generasi muda itu di Nepal, Bangladesh, Filipina dan Indonesia, untuk menyebut beberapa.
Pada akhirnya, krisis Iran 2026 bukan hanya tentang Iran. Ia adalah cermin bagi dunia Muslim, bagi Asia, bahkan bagi negara-negara demokrasi di Global South, yang sedang pincang. Ia mengingatkan bahwa negara tidak bisa menjanjikan stabilitas tanpa harapan, bahwa sensor tidak bisa menggusur imajinasi, dan bahwa legitimasi adalah pondasi paling rapuh sekaligus paling menentukan dari setiap kekuasaan.
Dalam sejarah politik, tidak ada yang lebih berbahaya bagi sebuah rezim selain rakyat, terutama generasi muda, yang berhenti percaya. Jika tidak ada kepercayaan lagi, maka kejatuhan rejim hanya menunggu waktu.
(poe)
Lihat Juga :