Risiko Perekonomian Global dalam Penangkapan Maduro

Kamis, 08 Januari 2026 - 06:36 WIB
Kenaikan harga minyak dunia berdampak lanjutan dalam jangka menengah terhadap inflasi di negara-negara EMEs, termasuk China. Sehingga, respons kebijakan moneter EMEs adalah menaikkan policy rate (suku bunga acuan) yang akan mengurangi likuiditas perekonomian dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Risiko lain yang berpotensi dihadapi oleh perekonomian global, khususnya China jika sikap Delcy Rodriguez yang tidak koperatif adalah penurunan indeks harga saham China yang disebabkan oleh melemahnya faktor fundamental.

Hasil riset John Bernie dkk menunjukkan tingginya korelasi harga saham antara China dengan EMEs di Asia, khususnya Indonesia. Di mana, integrasi perekonomian China melalui equity market dengan perekonomian negara-negara Asia sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir.

Akhir kata, mitigasi risiko terhadap perekonomian nasional akibat penangkapan Maduro, yaitu pertama, tidak perlu euphoria atas kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengingat fenonena all-time high (ATH) di pasar saham terjadi secara global, yaitu dialami oleh hampir semua pasar saham EMEs.

Kedua, jika skenarionya, presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez tidak koperatif, maka harga minyak dunia akan naik, inflasi naik, dan pertumbuhan ekonomi melambat.

Sehingga, untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,0 - 5,2 persen maka mesin pendorongnya adalah sisi fiskal melalui berbagai paket stimulus, khususnya kepada kelompok masyarakat berpendapatan menengah bawah.

Ketiga, mitigasi risko atas skenario harga minyak mentah dunia naik secara signifikan, mengingat pada saat yang bersamaan dengan konflik Venezuela, Iran sebagai pemilik cadangan minyak nomor tiga terbesar dunia juga menghadapi potensi perang baru dengan AS dan Israel.

Demikian juga dengan Saudi Arabia sebagai produsen minyak terbesar dunia terlibat dalam konflik Yaman, khususnya dengan UAE.

Hal ini membuat inflasi dan suku bunga berpotensi naik. Sehingga untuk mempertahankan pertumbuhan investasi secara nasional maka pilihannya adalah insentif pajak dan kemudahan birokasi untuk mengkompensasi kenaikan biaya bunga.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!