Risiko Perekonomian Global dalam Penangkapan Maduro

Kamis, 08 Januari 2026 - 06:36 WIB
loading...
Risiko Perekonomian...
Muhammad Syarkawi Rauf, Dosen FEB Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Chairman Asean Competition Institute (ACI). Foto/Dok.SindoNews
A A A
Muhammad Syarkawi Rauf
Dosen FEB Universitas Hasanuddin (Unhas),
Chairman Asean Competition Institute (ACI)


PENANGKAPAN Presiden Venezuela, Nicolas Maduro oleh Delta Force, pasukan khusus Amerika Serikat (AS) dan CIA, badan intelijen AS pada Sabtu, 3 Januari 2026 mengguncang tatanan politik global yang selama ini dibangun berdasarkan aturan (rule based) yang disepakati secara internasional. Penangkapan Maduro oleh pasukan AS juga dikhawatirkan meningkatkan risiko terhadap perekonomian global.

Hal itu mengingat Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, yaitu mencapai 303 milyar barrel.

Deposit minyak Venezuela lebih besar dari deposit minyak Saudi Arabia yang mencapai 267 miliar barrel, Iran 209 miliar barrel, Iraq 145 miliar barrel, dan United Arab Emirate (UAE) 113 miliar barrel.

Namun, dalam 50 tahun terakhir, sejak tahun 1970-an, kontribusi perekonomian Venezuela menurun dari 1,0 persen menjadi hanya 0,1 persen terhadap Gross Domestic Product (GDP) global harga konstan. Sehingga risiko penangkapan Maduro terhadap perekonomian global menjadi relatif kecil.

Demikian juga dengan produksi minyak Venezuela yang mengalami penurunan dari 3,5 juta barrel minyak per hari (mbpd) pada tahun 1970-an, setara 8,0 persen dari total pasokan minyak global pada dekade 1970 – 1980-an. Menjadi hanya 1,0 juta barrel per hari atau peringkat ke-18 produsen minyak bumi dunia.

Hingga saat ini, efek penangkapan Maduro terhadap harga komoditas minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) crude oil mengalami kenaikan sebesar 1,7 persen, yaitu menjadi 61,76 dollar AS per barrel untuk minyak Brent dan 58,32 per barrel untuk WTI crude oil.

Penangkapan Maduro membuat outlook terhadap sektor energi menjadi positif dalam jangka menengah karena ekspektasi investasi pada infrastruktur perminyakan akan mengalami peningkatan. Hal ini berdampak pada harga saham perusahaan-perusahaan minyak AS mengalami kenaikan.

Tidak hanya itu, ekspektasi peningkatan pengeluaran di bidang pertahanan akibat serangaan AS ke Venezuela mendorong saham-saham perusahaan bidang pertahanan juga mengalami peningkatan.

Selain itu, harga saham di Emerging Market Economies (EMEs) mengalami kenaikan karena penguasaan cadangan minyak bumi terbesar dunia oleh AS dan adanya potensi peningkatan produksi minyak dunia. Hal ini membuat ekspektasi harga minyak dunia mengalami penurunan yang menguntungkan negara-negara importir minyak dunia.

Bahkan beberapa asset yang dianggap sebagai safe haven asset (asset yang dianggap aman karena harganya yang stabil, trennya naik), seperti mata uang dollar AS yang tercermin pada kenaikan US dollar index (DXY) sebesar 0,2 persen, harga emas dan perak juga mengalami peningkatan berdasarkan data Trading Economics pada Senin, 5 Januari 2026.

Ekspektasi risiko yang besar terhadap perekonomian global dan EMEs, termasuk Indonesia dapat terjadi dalam jangka menengah, tergantung pada respon pemerintahan baru Venezuela terhadap ultimatum Presiden Trump untuk koperatif atau tetap memilih sikap berseberangan dengan pemerintah AS.

Artinya, jika pemerintah Venezuela yang baru di bawah presiden interim, Delcy Rodriguez bersikap berseberangan dengan kepentingan pemerintah AS, maka risiko terbesarnya adalah mengganggu ekspor minyak Venezuela ke sejumlah negara.

Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa ekspor minyak Venezuela yang terbesar ke China sekitar 68 persen dari total ekspor minyak mentah Venezuela. Hanya 23 persen ke AS, 4,0 persen ke Spanyol, 4,0 persen ke Cuba, dan hanya 1,0 persen ke negara lainnya.

Jika Presiden interim Venezuela bersikap tidak koperatif, maka akan mengganggu pasokan minyak ke China yang berpotensi mengganggu pasokan energi China. Hal ini dapat berdampak pada kenaikan harga minyak dunia secara signifikan mengingat China akan mencari sumber pasokan minyak dari negara ketiga (permintaan naik) pada harga yang lebih tinggi.

Hal itu sejalan dengan ekonom, John Bernie dkk dari Asian Development Bank Institute (ADBI) dalam riset berjudul “When the United State and the People’s Republic of China Sneeze: Monetary Policy Spillovers to Asian Economies” menunjukkan bahwa respons otoritas China terhadap tekanan eksternal sangat berdampak pada perekonomian EMEs di Asia, termasuk Indonesia.

Sebagai contoh, jika Delcy Rodriguez memilih sikap tidak koperatif terhadap Presiden Trump maka serangan militer kedua akan dilancarkan yang akan mengganggu pasokan minyak ke China dan berpotensi mendongrak harga minyak dunia.

Kenaikan harga minyak dunia berdampak lanjutan dalam jangka menengah terhadap inflasi di negara-negara EMEs, termasuk China. Sehingga, respons kebijakan moneter EMEs adalah menaikkan policy rate (suku bunga acuan) yang akan mengurangi likuiditas perekonomian dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Risiko lain yang berpotensi dihadapi oleh perekonomian global, khususnya China jika sikap Delcy Rodriguez yang tidak koperatif adalah penurunan indeks harga saham China yang disebabkan oleh melemahnya faktor fundamental.

Hasil riset John Bernie dkk menunjukkan tingginya korelasi harga saham antara China dengan EMEs di Asia, khususnya Indonesia. Di mana, integrasi perekonomian China melalui equity market dengan perekonomian negara-negara Asia sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir.

Akhir kata, mitigasi risiko terhadap perekonomian nasional akibat penangkapan Maduro, yaitu pertama, tidak perlu euphoria atas kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengingat fenonena all-time high (ATH) di pasar saham terjadi secara global, yaitu dialami oleh hampir semua pasar saham EMEs.

Kedua, jika skenarionya, presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez tidak koperatif, maka harga minyak dunia akan naik, inflasi naik, dan pertumbuhan ekonomi melambat.

Sehingga, untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,0 - 5,2 persen maka mesin pendorongnya adalah sisi fiskal melalui berbagai paket stimulus, khususnya kepada kelompok masyarakat berpendapatan menengah bawah.

Ketiga, mitigasi risko atas skenario harga minyak mentah dunia naik secara signifikan, mengingat pada saat yang bersamaan dengan konflik Venezuela, Iran sebagai pemilik cadangan minyak nomor tiga terbesar dunia juga menghadapi potensi perang baru dengan AS dan Israel.

Demikian juga dengan Saudi Arabia sebagai produsen minyak terbesar dunia terlibat dalam konflik Yaman, khususnya dengan UAE.

Hal ini membuat inflasi dan suku bunga berpotensi naik. Sehingga untuk mempertahankan pertumbuhan investasi secara nasional maka pilihannya adalah insentif pajak dan kemudahan birokasi untuk mengkompensasi kenaikan biaya bunga.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Rayakan 250 Tahun...
AS Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan, Soroti Masa Depan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Thucydides Trap: Antinomi...
Thucydides Trap: Antinomi China dan Amerika
Menhan Ungkap Asal Muasal...
Menhan Ungkap Asal Muasal Amerika Serikat Ajukan Overflight Access ke Indonesia
Menkomdigi Tegaskan...
Menkomdigi Tegaskan Pertukaran Data dengan AS Bukan Data Kependudukan
Amerika Serikat di Persimpangan...
Amerika Serikat di Persimpangan Damai Pada Perang Iran
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Rekomendasi
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Antipasi Lonjakan Pengguna,...
Antipasi Lonjakan Pengguna, Jasa Marga Intensifkan Preservasi Rutin Jalan Tol
Pertamina Masuk Fortune...
Pertamina Masuk Fortune Southeast Asia 500, Cermin Kekuatan Ekonomi Nasional di Mata Dunia
Berita Terkini
Pangi Chaniago: Kisruh...
Pangi Chaniago: Kisruh Dialog UGM Cerminan Menumpuknya Kemarahan Publik
Muktamar NU Harus Jadi...
Muktamar NU Harus Jadi Momentum Pemurnian, Bukan Arena Perebutan Kekuasaan
Kejagung Ungkap Peran...
Kejagung Ungkap Peran Glory Harimas Sihombing di Kasus Korupsi MBG: Jual Titik SPPG
Glory Harimas Sihombing...
Glory Harimas Sihombing Jadi Tersangka Baru Korupsi MBG
Sony Sanjaya Beberkan...
Sony Sanjaya Beberkan Ada Pengadaan Fiktif CCTV dan Sidik Jari Rp300 Miliar di Program MBG
Sony Sonjaya Diperiksa...
Sony Sonjaya Diperiksa Kejagung 9 Jam, Daftar Nama terkait Jual Beli Titik SPPG Bertambah Jadi 41 Orang
Infografis
5 Pemain Paling Ikonik...
5 Pemain Paling Ikonik dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved