Mitigasi Risiko Perekonomian Global

Rabu, 17 Desember 2025 - 10:26 WIB
Muhammad Syarkawi Rauf, Dosen FEB Universitas Hasanuddin/Chairman ASEAN Competition Institute. Foto/Dok. SindoNews
Muhammad Syarkawi Rauf

Dosen FEB Universitas Hasanuddin



Chairman ASEAN Competition Institute

CHIEF Global Economist JP Morgan, Bruce Kasman menyatakan risiko terbesar perekonomian global tahun 2026 bersumber dari penurunan konsumsi di negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) dan China. Pada saat yang sama upah mengalami penurunan dibarengi dengan inflasi tinggi akibat Trade War 2.0 antara AS dengan China.

Perekonomian AS dan China berkontribusi hampir separuh dari perekonomian global, yaitu sekitar 45% dari Gross Domestic Product (GDP) harga konstan global tahun 2024. Perekonomian AS berkontribusi sekitar 26 persen dan China sekitar 19%.

Meskipun demikian, JP Morgan memproyeksikan bahwa probabilitas terjadinya resesi hanya sebesar 35% pada 2026. Hal ini disebabkan oleh kebijakan stimulus fiskal untuk mendongkrak konsumsi, baik di negara maju maupun di Emerging Market Economies (EMEs).

Risko Utama Global

Risiko utama perekonomian global tahun 2026 juga bersumber dari kebijakan tarif AS yang membawa perekonomian global memasuki fase baru. Sebuah fase proteksionisme baru (new protectionism) dan meningkatnya kecenderungan blok perdagangan antara AS dan Uni Eropa (UE) berhadapan dengan China dan Rusia. Akibatnya, pertumbuhan perdagangan global diperkirakan akan mengalami penurunan yang sangat signifikan, yaitu dari 2,4% tahun 2025 menjadi hanya 0,5% tahun 2026 secara tahunan (year–on–year).

Risiko utama perekonomian global juga bersumber dari inflasi tinggi, terutama di negara-negara maju seperti AS. Hal ini tidak memberi ruang bagi The Fed, bank sentral AS dan bank sentral negara-negara maju lainnya melanjutkan tren penurunan suku bunga acuan (policy rate). Perekonomian global tahun 2026 masih akan berada dalam rezim suku bunga tinggi.

Hasil perhitungan yang dilakukan oleh The Fed (2025) dalam kasus perekonomian AS menunjukkan bahwa peningkatan 10% biaya perdagangan global yang disebabkan oleh kenaikan tarif terhadap intermediate goods (barang input) akan meningkatkan inflasi Consumer Price Index (CPI) sebesar 0,3%.

Sementara, pengenaan tarif 10 persen terhadap barang jadi (final goods) akan menaikkan CPI inflation sebesar 0,5%. Namun, jika tarif 10% dikenakan terhadap impor barang setengah jadi dan barang jadi secara bersamaan maka CPI inflation akan naik sebesar 0,8%.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!