Kebijakan Moneter, Rupiah, dan Daya Beli: Stabilitas yang Tak Lagi Cukup

Senin, 08 Desember 2025 - 14:10 WIB
Rupiah sendiri bergerak dalam tekanan struktural yang tak sederhana. Bahkan ketika inflasi terkendali, mata uang tetap rapuh terhadap guncangan eksternal. Ketergantungan terhadap komoditas menjadikan pendapatan devisa volatil. Di sisi lain, kebutuhan impor pangan, energi, dan barang modal tetap tinggi.

Kombinasi ini membuat kurs rupiah sangat sensitif terhadap perubahan selera investor global. Setiap episode risk-off, setiap indikasi kenaikan suku bunga Amerika, langsung memukul rupiah. Intervensi BI memang mampu meredam gejolak jangka pendek, tetapi tidak menyelesaikan persoalan fundamental: ekonomi Indonesia belum menghasilkan cukup banyak barang yang diminati dunia.

Di titik ini terlihat paradoks, BI bekerja keras menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, tetapi masyarakat tetap merasa harga-harga mahal. Inflasi resmi sering kali rendah karena komponen tertentu seperti energi bersubsidi ditahan oleh kebijakan fiskal. Namun, biaya hidup warga ditentukan oleh harga yang paling sering dibayar seperti beras, ayam, cabai, transportasi, sewa tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan.

Banyak dari pos ini terpengaruh oleh faktor non-moneter, yaitu rantai pasok yang tidak efisien, distribusi pangan yang rapuh, biaya logistik yang tinggi, hingga infrastruktur penyimpanan yang minim. Ketika pasokan terganggu, BI tidak punya instrumen untuk menurunkan harga beras atau mengatasi kelangkaan pasokan tertentu. Akhirnya, stabilitas inflasi secara statistik tidak diterjemahkan menjadi stabilitas biaya hidup.

Suku bunga pun menghadirkan dilema tersendiri. Bunga tinggi memang membantu menopang rupiah dan menarik modal asing, tetapi sekaligus menahan aktivitas ekonomi domestik. Rumah tangga kelas menengah yang bergantung pada kredit KPR, kendaraan, modal usaha kecil menanggung konsekuensinya.

Ketika cicilan meningkat, konsumsi tertekan. Pelaku usaha kecil dan menengah pun merasakan beban yang sama dan akses kredit lebih mahal, sehingga ekspansi dan rekrutmen tertahan.

Sementara itu, penurunan bunga yang terlalu cepat dapat melemahkan rupiah dan memicu tekanan inflasi berbasis impor. Indonesia terperangkap dalam situasi “jalan sempit”, di mana setiap pilihan kebijakan membawa risiko.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!