Kepemimpinan Tunggal dalam Pesantren: Belajar dari Model Al-Suffah
Rabu, 10 Desember 2025 - 17:13 WIB
Ada satu lagi pelajaran dari Al-Suffah yang perlu direnungkan.
Rasulullah tidak pernah membangun kepemimpinannya di atas jabatan formal semata. Beliau memimpin karena keteladanan. Karena integritas. Karena para sahabat melihat sendiri bagaimana beliau hidup sesuai dengan apa yang diajarkan.
French dan Raven dalam teori basis kekuasaan membedakan antara legitimate power (kekuasaan karena jabatan) dengan referent power (kekuasaan karena keteladanan). Rasulullah memiliki keduanya, namun yang lebih dominan adalah referent power. Orang-orang mengikuti beliau bukan karena takut pada jabatan, melainkan karena kagum pada pribadi.
Di sinilah tantangan terbesar pesantren hari ini.
Kepemimpinan tunggal hanya akan efektif jika pemimpinnya memang layak menjadi teladan. Jika Kiai hanya mengandalkan garis keturunan atau jabatan formal tanpa substansi keilmuan dan akhlak, kepemimpinannya akan rapuh. Santri dan masyarakat akan mencari rujukan ke tempat lain.
Sebaliknya, jika Kiai benar-benar menjadi pewaris para Nabi dalam ilmu dan akhlaknya, kepemimpinannya akan kokoh tanpa perlu dipaksakan. Orang-orang akan datang dengan sendirinya. Seperti para sahabat yang berbondong-bondong ke Al-Suffah bukan karena dipaksa, melainkan karena di sanalah mereka menemukan cahaya.
Hamid Fahmy Zarkasyi menyebutnya sebagai kepemimpinan profetik—kepemimpinan yang bersumber dari nilai-nilai kenabian. Pemimpin profetik tidak sekadar mengelola organisasi, tetapi mentransformasi manusia-manusia di dalamnya.
Menjadi organisme, bukan sekadar organisasi.
Memiliki satu jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh.
Dipimpin oleh figur yang memimpin dengan teladan, bukan sekadar jabatan.
Itulah pesantren yang dirindukan.
Wallahu a'lam bi al-shawab.
(Artikel ini merupakan bagian dari serial tulisan tentang Organisasi Pendidikan Islam)
Rasulullah tidak pernah membangun kepemimpinannya di atas jabatan formal semata. Beliau memimpin karena keteladanan. Karena integritas. Karena para sahabat melihat sendiri bagaimana beliau hidup sesuai dengan apa yang diajarkan.
French dan Raven dalam teori basis kekuasaan membedakan antara legitimate power (kekuasaan karena jabatan) dengan referent power (kekuasaan karena keteladanan). Rasulullah memiliki keduanya, namun yang lebih dominan adalah referent power. Orang-orang mengikuti beliau bukan karena takut pada jabatan, melainkan karena kagum pada pribadi.
Di sinilah tantangan terbesar pesantren hari ini.
Kepemimpinan tunggal hanya akan efektif jika pemimpinnya memang layak menjadi teladan. Jika Kiai hanya mengandalkan garis keturunan atau jabatan formal tanpa substansi keilmuan dan akhlak, kepemimpinannya akan rapuh. Santri dan masyarakat akan mencari rujukan ke tempat lain.
Sebaliknya, jika Kiai benar-benar menjadi pewaris para Nabi dalam ilmu dan akhlaknya, kepemimpinannya akan kokoh tanpa perlu dipaksakan. Orang-orang akan datang dengan sendirinya. Seperti para sahabat yang berbondong-bondong ke Al-Suffah bukan karena dipaksa, melainkan karena di sanalah mereka menemukan cahaya.
Hamid Fahmy Zarkasyi menyebutnya sebagai kepemimpinan profetik—kepemimpinan yang bersumber dari nilai-nilai kenabian. Pemimpin profetik tidak sekadar mengelola organisasi, tetapi mentransformasi manusia-manusia di dalamnya.
Menjadi organisme, bukan sekadar organisasi.
Memiliki satu jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh.
Dipimpin oleh figur yang memimpin dengan teladan, bukan sekadar jabatan.
Itulah pesantren yang dirindukan.
Wallahu a'lam bi al-shawab.
(Artikel ini merupakan bagian dari serial tulisan tentang Organisasi Pendidikan Islam)
(nnz)
Lihat Juga :