Gelar Pahlawan Nasional Pulihkan Memori Sejarah Bangsa melalui Pendekatan Inklusif

Minggu, 09 November 2025 - 16:21 WIB
“Prabowo telah menunjukkan bahwa penghargaan terhadap jasa seseorang tidak berarti menghapus kritik atas kesalahannya. Inilah bentuk kedewasaan politik yang perlu diteladani,” katanya.

Menanggapi pertanyaan apakah adil bila jasa besar Soeharto di bidang pembangunan, pangan, infrastruktur, ekonomi, dan stabilitas nasional diabaikan hanya karena kontroversi politiknya, Zulhamdi berpendapat bahwa sejarah harus dilihat secara proporsional.

“Kita tidak bisa menafikan peran besar Soeharto dalam pembangunan nasional. Kesalahan dan pelanggaran politiknya harus diakui, tetapi pencapaian konkret di bidang ekonomi dan ketahanan pangan juga patut diapresiasi. Mengabaikan seluruh jasanya hanya karena trauma politik masa lalu akan membuat bangsa ini kehilangan objektivitas sejarah,” ungkapnya.

Dia menilai pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto jika dilakukan dengan pertimbangan akademik dan moral yang matang justru bisa menjadi simbol kebesaran bangsa Indonesia.

“Pemberian gelar pahlawan Soeharto bukan semata soal politik, tetapi tentang kemampuan bangsa ini untuk mengakui jasa siapa pun tanpa membawa dendam sejarah. Ini akan menunjukkan kedewasaan kolektif kita sebagai bangsa besar bahwa bangsa yang mampu mengingat tanpa membenci dan belajar tanpa melupakan,” ujarnya.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!