Refleksi Dies Maulidiah ke-64 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang: Menuju Kampus Eco-Teologi, dari Spirit Keilmuan ke Tanggung Jawab Ekologis

Rabu, 29 Oktober 2025 - 14:13 WIB
Konsep eco-teologi menawarkan sebuah jalan baru. Ia bukan hanya tentang penghijauan atau pengelolaan sampah, tetapi tentang kesadaran teologis bahwa alam adalah ayat Tuhan. Dalam Al-Qur’an, bumi disebut ratusan kali.. bukan sekadar benda mati, melainkan makhluk yang hidup, bertasbih, dan tunduk pada kehendak-Nya. Ketika manusia merusak bumi, sejatinya ia sedang melukai ayat-ayat Tuhan yang lain.

Eco-teologi menuntut perubahan cara pandang: dari berpusat pada manusia menjadi berpusat pada keseimbangan semesta. Manusia bukan penguasa tunggal, melainkan khalifah yang diberi amanah untuk menjaga keberlanjutan kehidupan. Maka, tanggung jawab ekologis sejatinya adalah wujud ibadah.

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan akar spiritualitas yang kuat dan tradisi ilmiah yang mapan, memiliki modal besar untuk menjadi pelopor gerakan ini. Spirit ulul albab bisa ditafsirkan ulang sebagai semangat ekologis: orang yang mampu berpikir mendalam, merenung, dan berbuat nyata untuk kelestarian bumi. Integrasi antara ilmu, iman, dan lingkungan inilah yang membedakan eco-teologi dari sekadar eco-campus.

Menjadi kampus eco-teologi bukan sekadar menanam pohon atau menghemat energi, melainkan membangun kesadaran kolektif. Kesadaran bahwa setiap kebijakan akademik, riset, dan perilaku sehari-hari harus mencerminkan kepedulian ekologis.

Langkah awal sudah dimulai dari hal sederhana, antara lain: Kurikulum yang menanamkan nilai keberlanjutan dalam semua disiplin ilmu, dari teologi hingga teknologi. Riset yang mengintegrasikan ilmu lingkungan dengan kajian keislaman, misalnya green fiqh, ekonomi sirkular islami, atau eco-halal industry. Kebijakan kampus yang berpihak pada energi bersih, pengelolaan limbah, dan transportasi ramah lingkungan. Dan membangun budaya sivitas akademika yang mencintai alam: tidak boros air, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga kebersihan sebagai bagian dari iman.

Dan yang paling penting adalah membentuk kesadaran spiritual ekologis. Setiap mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan harus memahami bahwa mencintai bumi adalah bagian dari mencintai Tuhan. Bahwa menjaga lingkungan adalah bentuk ta’abbud, ibadah dalam bentuk amal nyata.

Spirit Maulana Malik Ibrahim: Islam yang Menyejukkan

Tokoh yang namanya diabadikan sebagai nama universitas, Maulana Malik Ibrahim, dikenal bukan hanya sebagai penyebar Islam, tetapi juga sebagai pembawa kesejukan. Ia berdakwah dengan menanam, membangun, dan menyejahterakan masyarakat. Semangat ini selaras dengan visi eco-teologi. Dakwah bukan hanya mengajak manusia menyembah Tuhan, tetapi juga mengajak mereka menjaga rahmat Tuhan di bumi.

Dalam konteks ini, UIN Maliki bisa menafsirkan kembali misi dakwah akademiknya: mencetak intelektual yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga bijak ekologis. Seorang lulusan UIN harus menjadi khairu ummah, umat terbaik yang membawa rahmat bagi seluruh alam, bukan ancaman bagi lingkungan.

Refleksi dan Harapan

Enam puluh empat tahun lalu, para pendiri kampus ini telah menanamkan semangat, semangat keikhlasan, kerja keras, dan integrasi ilmu dan iman, yang akan tetap relevan. Sekarang ini tinggal bagaimana generasi penerus menafsirkan ulang semangat itu sesuai zaman.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!