Sumitronomics dan Stimulus Rp200 Triliun: Bisakah Indonesia Tumbuh 8%?
Kamis, 09 Oktober 2025 - 22:42 WIB
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UKRIDA, Eka Desy Purnama. FOTO/DOK.PRIBADI
Eka Desy Purnama
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA)
INDONESIA menargetkan pertumbuhan ekonomi 8%, angka yang terdengar ambisius di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kepercayaan pada target ini datang dari kombinasi stimulus likuiditas Rp200 triliun dan kebangkitan "Sumitronomics", sebuah konsep ekonomi yang digali kembali dari pemikiran Sumitro Djojohadikusumo. Namun pertanyaan kritis perlu diajukan: apakah strategi ini realistis, atau kita sedang terjebak dalam optimisme?
Perubahan kepemimpinan di Kementerian Keuangan dengan diangkatnya Purbaya Yudhi Sadewa menandai era baru kebijakan ekonomi Indonesia. Langkah berani yang paling menonjol adalah paket stimulus Rp200 triliun ke 5 bank milik negara sejak September 2025. Keputusan ini merupakan respon langsung terhadap sinyal penurunan ekonomi terkait pertumbuhan kredit perbankan melambat drastis dari rata-rata 11% sepanjang 2024 menjadi hanya 6,7% pada Juli 2025 yang menunjukkan penurunan aktivitas ekonomi.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA)
INDONESIA menargetkan pertumbuhan ekonomi 8%, angka yang terdengar ambisius di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kepercayaan pada target ini datang dari kombinasi stimulus likuiditas Rp200 triliun dan kebangkitan "Sumitronomics", sebuah konsep ekonomi yang digali kembali dari pemikiran Sumitro Djojohadikusumo. Namun pertanyaan kritis perlu diajukan: apakah strategi ini realistis, atau kita sedang terjebak dalam optimisme?
Perubahan kepemimpinan di Kementerian Keuangan dengan diangkatnya Purbaya Yudhi Sadewa menandai era baru kebijakan ekonomi Indonesia. Langkah berani yang paling menonjol adalah paket stimulus Rp200 triliun ke 5 bank milik negara sejak September 2025. Keputusan ini merupakan respon langsung terhadap sinyal penurunan ekonomi terkait pertumbuhan kredit perbankan melambat drastis dari rata-rata 11% sepanjang 2024 menjadi hanya 6,7% pada Juli 2025 yang menunjukkan penurunan aktivitas ekonomi.
Lihat Juga :