Kado 80 Tahun, One Piece dan Ronggowarsito

Minggu, 17 Agustus 2025 - 12:02 WIB

Narasi Selengekan dan Serat Jawa Serius



Film One Piece yang cocok untuk seluruh lapisan masyarakat dunia ini patut ditunggu serial selanjutnya; yang wajib tonton dan ditularkan penggalan-penggalannya menjadi viral di media sosial, tak hanya sebuah hiburan namun sebuah refleksi kekinian kondisi dunia.

Tak ada niat mencomot kekuatan narasi-narasi dalam perlawanan budaya pop vis a vis karya serius sastra dunia, tapi karya manga Eiichiro Oda itu membangkitkan kesadaran bahwa dunia makin menyusut, mudah diraih dan dibuat selengekan.

Secara maknawi, pesan besar bahwa ‘kegelapan selangkah-demi selangkah dikupas-diterangi dan tak akan langgeng’ dari aktor-aktor riil penguasaan politik jagat, dieja ulang, yang setidaknya Indonesia menjadi contoh kongkrit.

Saat novel 1984 atau Animal Farm dari tinjauan Orwellian, Goerge Orwell sebagai pengarang dibedah dan karyanya menjadi bacaan wajib para aktivis di masa lalu, One Piece yang selengekan menggedor orang-orang kebanyakan. Tak melulu disaksikan dan digunjingkan mahasiswa di kampus-kampus saja via ‘streaming Netflix’, sopir-sopir truk di jalur Pantura turut bergembira dan bangga truk-nya dihiasi warga gelap bendera One Piece nan kocak itu.

Atribut kostumnya, gerak-gerik ‘kawanan bajak laut amatir’ yang selalu beruntung ini seolah mengejek raja para binatang yang mewakilkan simbol para penguasa di buku Animal Farm atau ‘agen partai’ yang memata-matai warga sebagai Big Brother di novel 1984.

One Piece adalah sebuah simbol bagaimana kekuatan persahabatan, tak kenal meyerah dari kekompakan kawananan, keteguhan pembelaan pada yang lemah dan tertindas, penjelajahan tak mengenal takut sampai cita-cita mengejar mimpi.

Film fiksi yag digandrungi puluhan juta gen Z seantero jagad dengan kantung-kantung militan para fansnya ini, semata-mata adalah metafor pemburuan tentang ‘Harta Karun’, sebagai sebuah kondisi di masyarakat yang ingin diwujudkan Luffy, si tokoh utama sebagai ‘ gemah riah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja’.

Jika Luffy dan kawan-kawannya menghadapi akal-bulus para Bajak laut sesunggguhnya, dalam konteks ini adalah para pembegal dan penindas yang sebenarnya.

Seterusnya, ‘tentara Marinir yang koruptif’, yang kita bisa memiripkan pada bagaimana penegak hukum bermain mata dan undang-undang ditelantarkan serta Pemerintahan Dunia, yakni kebijakan pejabat politik yang sewenang-wenang, maka realitanya mereka semua ada dalam kehidupan keseharian.

Komik ala manga Jepang itu menjadi relevan dengan cerita-cerita masyhur dan seriusnya Serat Kalathida bagian ketujuh dari Ronggowarsito membaca zaman dan keteguhan moralitas. Yang saat eling dan mendadak waspodo, sebagai orang Jawa, semasa bocah selalu ‘menyimpan kado’ yang tertanam dalam benak dan terngiang:

Amenangi jaman edan,

éwuhaya ing pambudi,

mélu edan nora tahan,

yén tan mèlu anglakoni,

baya kaduman mélik,
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!