Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Harapan Ekonomi Rakyat

Senin, 21 Juli 2025 - 20:38 WIB
Dengan demikian, KDMP bukan sekadar koperasi biasa, tetapi dimaksudkan sebagai simpul ekonomi kolektif desa yang mampu berdiri sendiri sekaligus terhubung dengan pasar dan sistem nasional. Namun, seperti halnya banyak program pembangunan lainnya, keberhasilan ide bukanlah jaminan keberhasilan pelaksanaan.

Sebagus apa pun desain program, koperasi tidak akan berjalan sehat jika mengabaikan tiga aspek utama: kebudayaan lokal, struktur kekuasaan desa, dan daya tahan kelembagaan koperasi itu sendiri.

Pertama, realitas di banyak desa menunjukkan bahwa koperasi sering kali hanya menjadi pelengkap administratif. Banyak warga desa skeptis terhadap koperasi karena trauma masa lalu—koperasi yang korup, tak transparan, atau dikuasai segelintir elite lokal. Di sinilah KDMP perlu cermat membaca dinamika sosial: membangun koperasi tidak bisa hanya dengan pendekatan top-down, apalagi jika hanya berdasarkan data potensi ekonomi semata.

Kedua, struktur kekuasaan desa sering kali memengaruhi jalannya lembaga ekonomi. Dalam beberapa kasus, perangkat desa menjadi pengendali tunggal koperasi. Akibatnya, partisipasi masyarakat melemah, bahkan kehilangan kepercayaan. Bila KDMP ingin menjadi koperasi rakyat, maka transparansi, akuntabilitas, dan demokrasi internal harus menjadi prinsip tak bisa ditawar.

Ketiga, banyak koperasi gagal bukan karena minim modal, tetapi karena lemahnya manajemen, rendahnya literasi keuangan, serta belum adanya kaderisasi kepemimpinan koperasi yang mumpuni. Tanpa investasi jangka panjang dalam penguatan SDM, koperasi yang dibentuk akan mudah goyah atau hanya bergantung pada proyek pemerintah.

Dari Ekonomi Proyek ke Gerakan Ekonomi

Salah satu kelemahan sejarah pembangunan koperasi di Indonesia adalah mentalitas proyek. Ketika koperasi dikaitkan dengan bantuan, hibah, atau program jangka pendek, ia kehilangan ruh sebagai gerakan kolektif. Koperasi menjadi semacam 'badan usaha instan' yang hidup dari program, bukan dari kesadaran dan partisipasi anggotanya.

KDMP harus menghindari jebakan ini. Jika koperasi desa hanya tumbuh karena stimulus pemerintah, maka begitu dana berhenti, koperasi pun mati suri. Maka, lebih dari sekadar bantuan modal dan pelatihan, KDMP perlu didorong sebagai gerakan kemandirian ekonomi desa. Di sinilah pendidikan koperasi—dalam arti pendidikan ideologis, bukan sekadar teknis—menjadi krusial.

Koperasi tidak boleh dilihat hanya sebagai sarana ekonomi, tetapi sebagai alat perubahan sosial: membangun solidaritas warga, memperkuat kontrol atas sumber daya lokal, serta menjadi alternatif dari sistem ekonomi yang makin terpusat dan eksploitatif.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!