Handphone dan Paradoks Hubungan Sosial Kita
Kamis, 17 Juli 2025 - 08:36 WIB
Siswa Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV Lemhannas RI, Ahmad Inung. FOTO/DOK.PRIBADI
Ahmad Inung
Siswa Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV Lemhannas RI
PERNAHKAH kita makan malam bersama keluarga atau teman di mana setiap orang saling diam karena masing-masing sibuk dengan gadget-nya? Pernahkah kita meminta tolong pada orang dekat kita melalui WA sekalipun orang itu tinggal serumah dengan kita? Itulah fenomena yang sedang kita alami saat ini. Fenomena ini disebut Sherry Turkle, sosiolog dari Amerika, dengan istilah "alone together". Istilah ini kurang lebih artinya adalah bersama tapi sendiri.
Kita tengah hidup dalam dunia yang dipenuhi paradoks. Belum pernah ada sebuah era di mana manusia begitu mudahnya terhubung antara satu dengan lainnya. Namun, belum pernah juga ada sejarah di mana manusia begitu kesepian. Di jantung paradoks ini, narasi utamanya adalah mobile phone atau handphone (HP). Ketergantungan kita pada perangkat kecil di genggaman tangan ini telah menggantikan orang-orang tersayang. Hubungannya dengan kita lebih dekat dari orang-orang yang paling kita cintai sekalipun.
Saat ini, jika ada benda yang begitu dekat dengan kita, yang kalau terpisah membuat kita merasakan kehilangan, itu adalah HP. Namun, benda itu pula yang menjadi tembok pemisah. Lebih memisahkan dari tembok Berlin.
Siswa Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV Lemhannas RI
PERNAHKAH kita makan malam bersama keluarga atau teman di mana setiap orang saling diam karena masing-masing sibuk dengan gadget-nya? Pernahkah kita meminta tolong pada orang dekat kita melalui WA sekalipun orang itu tinggal serumah dengan kita? Itulah fenomena yang sedang kita alami saat ini. Fenomena ini disebut Sherry Turkle, sosiolog dari Amerika, dengan istilah "alone together". Istilah ini kurang lebih artinya adalah bersama tapi sendiri.
Kita tengah hidup dalam dunia yang dipenuhi paradoks. Belum pernah ada sebuah era di mana manusia begitu mudahnya terhubung antara satu dengan lainnya. Namun, belum pernah juga ada sejarah di mana manusia begitu kesepian. Di jantung paradoks ini, narasi utamanya adalah mobile phone atau handphone (HP). Ketergantungan kita pada perangkat kecil di genggaman tangan ini telah menggantikan orang-orang tersayang. Hubungannya dengan kita lebih dekat dari orang-orang yang paling kita cintai sekalipun.
Saat ini, jika ada benda yang begitu dekat dengan kita, yang kalau terpisah membuat kita merasakan kehilangan, itu adalah HP. Namun, benda itu pula yang menjadi tembok pemisah. Lebih memisahkan dari tembok Berlin.
Lihat Juga :