Krisis Gaza dan Diplomasi Indonesia-Prancis
Kamis, 05 Juni 2025 - 07:36 WIB
Narasi multilateralisme yang mereka angkat menjadi seperti tirai retoris yang menyembunyikan kalkulasi realpolitik, di mana stabilitas kawasan, relasi dagang, dan aliansi strategis tetap menjadi prioritas utama.
Di sisi lain, pernyataan Prabowo tentang kesiapan Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Israel jika kemerdekaan Palestina diakui, memperlihatkan bahwa kedua negara sebenarnya berbagi pandangan normatif yang sama, meski dengan cara yang berbeda.
Dengan demikian, komitmen Prancis soal Gaza perlu dibaca bukan hanya dari kata-kata mereka, tetapi juga dari jejak perilaku historis mereka dan potensi keberanian mereka untuk menggeser paradigma lama di arena global.
Indonesia lahir dari rahim perjuangan anti-kolonial, dan identitas sejarah ini menjadi fondasi kuat bagi perspektif kebijakan luar negeri negara ini. Solidaritas Indonesia terhadap Palestina tidak sekadar berbasis pada isu keagamaan, melainkan juga merupakan refleksi dari sejarah panjang penolakan terhadap kolonialisme, penindasan, dan pendudukan.
Oleh karena itu, dalam berbagai forum internasional, Indonesia secara konsisten menyuarakan aspirasi dunia Selatan yang menuntut agar Palestina diberikan hak untuk menentukan nasib sendiri, sebagaimana bangsa Indonesia juga pernah memperjuangkannya.
Konsistensi sikap ini tercermin dalam pendekatan diplomatik Indonesia terhadap konflik Gaza dan isu Palestina secara lebih luas.
Meskipun ada godaan untuk mengambil langkah-langkah pragmatis yang mungkin menguntungkan secara ekonomi atau politik, Indonesia tetap berpegang pada posisi normatif yang tegas mendukung Palestina tanpa syarat.
Sikap ini menunjukkan bagaimana identitas nasional dan nilai-nilai historis melekat kuat dalam kebijakan luar negeri, membentuk perilaku negara di panggung global.
Namun, Indonesia juga menyadari pentingnya membangun aliansi strategis dengan kekuatan besar seperti Prancis untuk memperkuat tekanan diplomatik internasional terhadap penyelesaian konflik.
Pertemuan antara Macron dan Prabowo menjadi menarik karena menyatukan dua pendekatan historis yang berbeda. Prancis membawa pengaruh sebagai kekuatan besar dengan kapasitas negosiasi tingkat tinggi, sementara Indonesia membawa legitimasi moral dari dunia Selatan yang lama mendukung Palestina.
Dalam pernyataan bersama mereka, krisis Gaza diangkat sebagai salah satu isu prioritas, di samping kerja sama ekonomi dan strategis lainnya. Hal ini menciptakan peluang: bisa jadi, koalisi negara maju dan berkembang seperti ini yang diperlukan untuk memecah kebuntuan diplomasi internasional.
Di sisi lain, pernyataan Prabowo tentang kesiapan Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Israel jika kemerdekaan Palestina diakui, memperlihatkan bahwa kedua negara sebenarnya berbagi pandangan normatif yang sama, meski dengan cara yang berbeda.
Dengan demikian, komitmen Prancis soal Gaza perlu dibaca bukan hanya dari kata-kata mereka, tetapi juga dari jejak perilaku historis mereka dan potensi keberanian mereka untuk menggeser paradigma lama di arena global.
Indonesia: Suara Moral Dunia Berkembang
Indonesia lahir dari rahim perjuangan anti-kolonial, dan identitas sejarah ini menjadi fondasi kuat bagi perspektif kebijakan luar negeri negara ini. Solidaritas Indonesia terhadap Palestina tidak sekadar berbasis pada isu keagamaan, melainkan juga merupakan refleksi dari sejarah panjang penolakan terhadap kolonialisme, penindasan, dan pendudukan.
Oleh karena itu, dalam berbagai forum internasional, Indonesia secara konsisten menyuarakan aspirasi dunia Selatan yang menuntut agar Palestina diberikan hak untuk menentukan nasib sendiri, sebagaimana bangsa Indonesia juga pernah memperjuangkannya.
Konsistensi sikap ini tercermin dalam pendekatan diplomatik Indonesia terhadap konflik Gaza dan isu Palestina secara lebih luas.
Meskipun ada godaan untuk mengambil langkah-langkah pragmatis yang mungkin menguntungkan secara ekonomi atau politik, Indonesia tetap berpegang pada posisi normatif yang tegas mendukung Palestina tanpa syarat.
Sikap ini menunjukkan bagaimana identitas nasional dan nilai-nilai historis melekat kuat dalam kebijakan luar negeri, membentuk perilaku negara di panggung global.
Namun, Indonesia juga menyadari pentingnya membangun aliansi strategis dengan kekuatan besar seperti Prancis untuk memperkuat tekanan diplomatik internasional terhadap penyelesaian konflik.
Sinergi Indonesia-Prancis: Membangun Peluang Baru?
Pertemuan antara Macron dan Prabowo menjadi menarik karena menyatukan dua pendekatan historis yang berbeda. Prancis membawa pengaruh sebagai kekuatan besar dengan kapasitas negosiasi tingkat tinggi, sementara Indonesia membawa legitimasi moral dari dunia Selatan yang lama mendukung Palestina.
Dalam pernyataan bersama mereka, krisis Gaza diangkat sebagai salah satu isu prioritas, di samping kerja sama ekonomi dan strategis lainnya. Hal ini menciptakan peluang: bisa jadi, koalisi negara maju dan berkembang seperti ini yang diperlukan untuk memecah kebuntuan diplomasi internasional.
Lihat Juga :