Masa Bulan Madu Korea Utara-Rusia Mungkin Telah Berakhir

Senin, 26 Mei 2025 - 18:16 WIB
Ketiga, hubungan Korea Utara-China, serta relasi antar pemimpin mereka, juga bisa menjadi variabel penting. Penguatan hubungan Korea Utara-Rusia berpotensi menekan hubungan Korea Utara dengan China, yang menyumbang lebih dari 90% perdagangan luar negeri Korea Utara.

Belum pasti seberapa lama Korea Utara dapat bertahan menghadapi risiko ini. Mengingat Rusia juga semakin bergantung pada China sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina, Rusia pun harus menyesuaikan kembali tingkat keterikatannya dengan Korea Utara.

Fakta bahwa ketiga negara, yakni Korea Utara, China, dan Rusia, diperintah oleh rezim otoriter satu orang menciptakan insentif untuk bekerja sama, namun juga menghadirkan tantangan. Seorang diktator memiliki keinginan untuk mengendalikan dan mendominasi, dan ambisi itu biasanya meluas tidak hanya ke urusan dalam negeri, tetapi juga hubungan luar negeri.

Saat Kim Jong-un dan Korea Utara berupaya memposisikan diri sebagai mitra sejajar dengan China dan Rusia serta sesekali memimpin kerja sama trilateral, terdapat potensi munculnya ketegangan di antara para pemimpin. Karena China dan Rusia berupaya mempertahankan posisi Korea Utara sebagai mitra junior.

Dalam beberapa hal, hubungan erat antara Korea Utara dan Rusia tampaknya telah memasuki masa penyesuaian, setelah melewati fase bulan madu. Fakta bahwa keduanya secara resmi mengakui partisipasi pasukan Korea Utara dalam perang menunjukkan bahwa fase penyesuaian ini sudah dimulai. Awalnya, kedua pihak enggan secara terbuka mengonfirmasi pengerahan pasukan, dengan Moskow menyebutnya “masalah antara dua negara” dan Pyongyang menggambarkannya sebagai “tindakan sesuai dengan norma hukum internasional.”

Kerugian besar yang tak terhindarkan di awal tahap pengerahan kemungkinan menjadi alasan utama di balik keraguan Korea Utara. Selain itu, keterlambatan mereka memanfaatkan momentum ini untuk propaganda menunjukkan bahwa bahkan pihak Korea Utara menyadari sulitnya membenarkan langkah tersebut. Meski kemungkinan besar Korea Utara akan menuntut kompensasi besar atas apa yang mereka klaim sebagai aksi heroik, perhitungan Rusia tampaknya mulai berubah, terutama setelah mereka berhasil menghindari situasi kritis.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!