India-Pakistan: Mozaik Identitas, Kekuasaan, dan Mimpi yang Terbelah

Jum'at, 16 Mei 2025 - 10:24 WIB
Kashmir, dengan keindahan pegunungan dan lembahnya, menjadi simbol tragedi ini. Sebuah wilayah yang diperebutkan dengan doa dan pedang. Perang 1947, 1965, dan 1971, ditambah ketegangan Kargil 1999, menggores luka yang tak kunjung sembuh.

Sejarah ini bukan sekadar kronik peristiwa; ia adalah elegi tentang kebanggaan yang terluka, trauma kolektif, dan hasrat untuk diakui. Dengan lensa hubungan internasional, konflik ini bagaikan cermin yang memantulkan kerumitan dunia.

Dalam pandangan realisme, India dan Pakistan terperangkap dalam tarian kekuasaan yang mematikan. Sebagai kekuatan nuklir, keduanya menari di tepi jurang, di mana keamanan satu pihak adalah ancaman bagi yang lain.

Ketegangan di Line of Control (LoC) adalah pengingat bahwa keseimbangan teror sering kali lebih rapuh dari yang kita kira. Namun, konstruktivisme menawarkan sudut lain: konflik ini bukan hanya soal senjata, tetapi juga identitas.

Narasi agama, nasionalisme, dan memori sejarah membentuk musuh abadi dalam benak kolektif. Sementara itu, liberalisme berbisik tentang secercah harapan; dialog, perdagangan, atau inisiatif budaya seperti Aman ki Asha, meski sering kali tersandung oleh tembok ketidakpercayaan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!