Pope Francis dan Dialog Antaragama untuk Perdamaian
Minggu, 27 April 2025 - 11:31 WIB
Pada 13 Maret 2013 Paus Fransiskus terpilih setelah pengunduran diri Paus Benediktus XVI. Kepausannya ditandai dengan penekanan pada belas kasihan, inklusivitas, pengelolaan lingkungan (terutama melalui ensikliknya Laudato Si'), dan Dialog Antar-Iman.
Dia secara konsisten telah membela hak-hak pengungsi, orang miskin papa, dan korban ketidakadilan, memposisikan Gereja sebagai suara untuk welas asih dalam urusan global. Dikenal karena kerendahan hati, kehangatan, dan kepemimpinannya yang berpikiran reformasi, Pope Francis telah berupaya membawa gereja lebih dekat dengan orang-orang biasa dan untuk mengatasi tantangan global modern, termasuk perubahan iklim, migrasi, dan ketidaksetaraan ekonomi.
Pope Francis terus menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia dengan visinya tentang Gereja yang, seperti yang sering dia katakan, adalah "rumah sakit lapangan" – dekat dengan mereka yang terluka dan kaum miskin papa yang membutuhkan. Namun, upayanya dalam Dialog Antar-Iman dan pembangunan perdamaian (peacebuilding) telah menjadikan dirinya dikagumi lintas agama, etnis/ras dan budaya.
Sejak awal kepausannya, ia telah menekankan visi dunia yang tidak dapat dipisahkan oleh tembok tebal agama dan etnis, tetapi dihubungkan oleh jembatan kemanusiaan bersama. Tidak seperti beberapa pendahulunya yang berfokus pada reformasi internal gereja atau ekumenisme Kristen, Pope Francis telah menempuh jalan terjal dengan memberanikan diri untuk terlibat ke dalam perjumpaan dan percakapan yang lebih luas, acap sulit, guna menjangkau dengan tulus kepada Muslim, Yahudi, Buddha, Hindu, dan bahkan pemikir sekuler.
Kunjungan pentingnya pada 2019 ke Abu Dhabi, di mana ia telah menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia (Human Fraternity) dengan Imam Besar Ahmed al-Tayeb, menonjol sebagai tonggak sejarah yang monumental. Ini bukan hanya sebuah tindakan diplomatik, melainkan juga seruan yang tulus untuk perdamaian, koeksistensi, dan saling menghormati di dunia yang semakin terpecah oleh ekstremisme agama.
Apa yang membuat pendekatan Fransiskus berbeda adalah keasliannya dan ketulusannya (sincerity). Dia tidak terlibat dalam dialog antar-iman dengan tujuan untuk "mengonversi" atau "mengalahkan" yang lain, tetapi untuk mendengarkan, memahami, dan berkolaborasi. Nada suaranya adalah cerminan rendah hati namun menegaskan keyakinan Katolik sambil merayakan apa yang mulia dan baik dalam tradisi agama dan iman yang lain.
Ketulusan ini telah melucuti selubung kecurigaan dan mengundang hubungan manusia yang nyata untuk berkolaborasi. Sebagai satu akibat, tentu saja, tidak semua orang merasa nyaman dengan upaya ini. Beberapa orang di dalam gerejanya sendiri – dan di luarnya – telah mengeritik keras untuk keterbukaannya sebagai naif atau bahkan berkompromi.
Lebih jauh, beberapa kritikus berpendapat bahwa keterbukaannya berisiko melemahkan identitas Katolik, banyak yang melihat tindakannya sebagai pemberani dan sangat diperlukan di dunia yang terfragmentasi. Tetapi sejarah mungkin mengingat Pope Francis yang teguh memilih untuk mengambil risiko kesalahpahaman demi perdamaian.
Di era yang kini ditandai dengan polarisasi, nasionalisme, dan kecurigaan yang akut, legacy Pope Francis dalam Dialog Antar-Iman tegak berdiri seperti karang di laut. Sebagai salah satu hadiah terbesarnya kepada dunia – mercusuar moral, yang mendesak dan menuntut semua orang yang beriman dan niat baik untuk melakukan perjumpaan, bertemu bukan dalam ancaman ketakutan, tetapi dalam iklim persahabatan untuk merengkuh perdamaian.
Kita jangan mengulang perang agama tiga puluh tahun di Jerman dan pedrang antar agama di berbagai belahan dunia. Tidak diragukan, Pope Francis telah secara signifikan membentuk lanskap Dialog Antar-Iman selama kepausannya.
Pendekatannya berakar tunjang pada kerendahan hati, menekankan mendengarkan dan kolaborasi daripada konfrontasi. Pope Francis secara konsisten menyoroti nilai-nilai bersama di antara agama, seperti kasih sayang, keadilan, dan kepedulian terhadap yang mereka rentan.
Dia secara konsisten telah membela hak-hak pengungsi, orang miskin papa, dan korban ketidakadilan, memposisikan Gereja sebagai suara untuk welas asih dalam urusan global. Dikenal karena kerendahan hati, kehangatan, dan kepemimpinannya yang berpikiran reformasi, Pope Francis telah berupaya membawa gereja lebih dekat dengan orang-orang biasa dan untuk mengatasi tantangan global modern, termasuk perubahan iklim, migrasi, dan ketidaksetaraan ekonomi.
Pope Francis terus menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia dengan visinya tentang Gereja yang, seperti yang sering dia katakan, adalah "rumah sakit lapangan" – dekat dengan mereka yang terluka dan kaum miskin papa yang membutuhkan. Namun, upayanya dalam Dialog Antar-Iman dan pembangunan perdamaian (peacebuilding) telah menjadikan dirinya dikagumi lintas agama, etnis/ras dan budaya.
Sejak awal kepausannya, ia telah menekankan visi dunia yang tidak dapat dipisahkan oleh tembok tebal agama dan etnis, tetapi dihubungkan oleh jembatan kemanusiaan bersama. Tidak seperti beberapa pendahulunya yang berfokus pada reformasi internal gereja atau ekumenisme Kristen, Pope Francis telah menempuh jalan terjal dengan memberanikan diri untuk terlibat ke dalam perjumpaan dan percakapan yang lebih luas, acap sulit, guna menjangkau dengan tulus kepada Muslim, Yahudi, Buddha, Hindu, dan bahkan pemikir sekuler.
Kunjungan pentingnya pada 2019 ke Abu Dhabi, di mana ia telah menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia (Human Fraternity) dengan Imam Besar Ahmed al-Tayeb, menonjol sebagai tonggak sejarah yang monumental. Ini bukan hanya sebuah tindakan diplomatik, melainkan juga seruan yang tulus untuk perdamaian, koeksistensi, dan saling menghormati di dunia yang semakin terpecah oleh ekstremisme agama.
Apa yang membuat pendekatan Fransiskus berbeda adalah keasliannya dan ketulusannya (sincerity). Dia tidak terlibat dalam dialog antar-iman dengan tujuan untuk "mengonversi" atau "mengalahkan" yang lain, tetapi untuk mendengarkan, memahami, dan berkolaborasi. Nada suaranya adalah cerminan rendah hati namun menegaskan keyakinan Katolik sambil merayakan apa yang mulia dan baik dalam tradisi agama dan iman yang lain.
Ketulusan ini telah melucuti selubung kecurigaan dan mengundang hubungan manusia yang nyata untuk berkolaborasi. Sebagai satu akibat, tentu saja, tidak semua orang merasa nyaman dengan upaya ini. Beberapa orang di dalam gerejanya sendiri – dan di luarnya – telah mengeritik keras untuk keterbukaannya sebagai naif atau bahkan berkompromi.
Lebih jauh, beberapa kritikus berpendapat bahwa keterbukaannya berisiko melemahkan identitas Katolik, banyak yang melihat tindakannya sebagai pemberani dan sangat diperlukan di dunia yang terfragmentasi. Tetapi sejarah mungkin mengingat Pope Francis yang teguh memilih untuk mengambil risiko kesalahpahaman demi perdamaian.
Di era yang kini ditandai dengan polarisasi, nasionalisme, dan kecurigaan yang akut, legacy Pope Francis dalam Dialog Antar-Iman tegak berdiri seperti karang di laut. Sebagai salah satu hadiah terbesarnya kepada dunia – mercusuar moral, yang mendesak dan menuntut semua orang yang beriman dan niat baik untuk melakukan perjumpaan, bertemu bukan dalam ancaman ketakutan, tetapi dalam iklim persahabatan untuk merengkuh perdamaian.
Kita jangan mengulang perang agama tiga puluh tahun di Jerman dan pedrang antar agama di berbagai belahan dunia. Tidak diragukan, Pope Francis telah secara signifikan membentuk lanskap Dialog Antar-Iman selama kepausannya.
Pendekatannya berakar tunjang pada kerendahan hati, menekankan mendengarkan dan kolaborasi daripada konfrontasi. Pope Francis secara konsisten menyoroti nilai-nilai bersama di antara agama, seperti kasih sayang, keadilan, dan kepedulian terhadap yang mereka rentan.