Prabowo Subianto Disarankan Adopsi Budaya Sisu untuk Wujudkan Swasembada Pangan

Sabtu, 12 Oktober 2024 - 15:40 WIB
Baca juga: Resmikan Bendungan Cipanas Senilai Rp2,03 Triliun, Wapres: Dukung Ketahanan Pangan

Dina melihat Budaya Sisu yang dimiliki Negara Finlandia yang memiliki kondisi iklim dan topografi relatif sulit, menarik untuk diadopsi sebagai pemantik inspirasi. Sisu bisa diartikan sebagai kombinasi tekad bulat, pendirian kuat, harga diri tinggi, kegigihan, semangat, ketekunan dan konsistensi dalam mengatasi hambatan atau kesulitan yang ekstrem atau tidak lazim. Bahkan perjuangan mencapai tujuan tetap difokuskan meskipun peluang keberhasilan mendekati nol.

Kemampuan bukan sekadar untuk bertahan hidup dari cuaca ekstrem namun sekaligus upaya sungguh-sungguh meraih kesuksesan yang dipandang sebagai mustahil sekalipun. Finlandia masa itu melalui konsep Sisu, berhasil mendeklarasikan kemerdekaan di 1917 dari cengkraman Rusia dan bahkan dikenal sebagai produsen telepon genggam Nokia yang sangat populer era 1990an.

“Dikenal sebagai negara dengan pola pendidikan terbaik, dibuktikan dengan pertumbuhan masif inovasi dan teknologi hingga saat ini sekalipun populasinya terbatas,” urai Dina.

Menurut World Happiness Report 2024, Finlandia dinobatkan sebagai negara paling bahagia dengan pendapatan per kapita tertinggi se dunia. Selain itu, Newsweek 2010 menempatkan Finlandia sebagai negara terbaik di dunia, juga posisi pertama Indeks Manusia Dunia di 2015. Finlandia saat ini juga merupakan salah satu negara terkuat bidang Pertahanan Keamanan di Uni Eropa dengan komposisi kekuatan seimbang antara jumlah personel militer dan persenjataan.

Sisu di Finlandia, serupa dengan Ppali-ppali di Korea Selatan, Ganbaru di Jepang, Sumud di Palestina, atau alon alon waton kelakon di Jawa (Indonesia) yang intinya berarti spirit kegigihan menembus peluang. Tanpa kegigihan atau kesungguhan maka potensi sebesar apa pun tidak akan termanfaatkan dengan baik. Sisu mengombinasikan kerja cerdas dan kerja keras yang melibatkan kekuatan fisik, otak dan juga psikologis dengan ritme yang konsisten.

Ketua Umum IKATANI ini mengingatkan jelang rezim Orde Baru berakhir di era 90an, masa pergeseran agraris ke industri lambat laun menanggalkan fundamental sehingga mendegradasi kemampuan bangsa dalam mengoptimalkan sektor andalan yang seyogyanya diperlakukan sebagai prioritas, yang pertama dan utama.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!