Indonesia Diminta Siapkan Mitigasi Hadapi Perang Modern dan Multikrisis

Selasa, 17 September 2024 - 11:59 WIB
Baca juga: KSAU Sebut Pertahanan Udara Jadi Salah Satu Kekuatan Perang Modern

Sementara “peace time” menuntut efisiensi dan efektivitas pemanfaatan sumber daya nasional yang terbatas, baik itu SDM maupun SDA untuk eksistensi berkesinambungan.

Dina menyebut, fakta bahwa masyarakat dan aktor politik kekinian cenderung disibukkan dengan perebutan kekuasaan atau suksesi kepemimpinan di berbagai organisasi dan institusi tanpa mengindahkan visi dan solusi kongkret yang ditawarkan dalam mengatasi berbagai persoalan dan ancaman bagi masyarakat dan masa depan negeri.

”Baru saja publik selesai dengan urusan pemilihan presiden dan para legislator yang masih menyisakan polemik, beberapa bulan ke depan sudah dihadapkan kembali dengan pemilu tingkat daerah yakni pemilihan gubernur dan bupati/wali kota. Pertanyaannya, ide dan gagasan seperti apa yang dimiliki para kandidat dalam memitigasi wilayah-wilayah di Indonesia dalam menghadapi perang terbuka dan asimetris hingga ancaman multikrisis?” tanya Dina.

Konflik Rusia-Ukraina, penguatan Blok Barat dan Blok Timur, pertarungan hegemoni Amerika dan Tiongkok, serangan siber ke berbagai institusi pemerintah serta berbagai dinamika global telah menjadi ancaman serius bagi eksistensi negeri yang lemah dalam kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya nasional.

“Pemimpin visioner yang mampu mengkolaborasikan kekuatan dalam menghadapi masa damai dan masa perang adalah jawabannya,” tegas Dina.

Evaluasi kekuatan militer dari perspektif tradisional, nampak dalam capaian target kekuatan pokok minimal atau Minimum Essential Force (MEF) Pertahanan Indonesia selama kurun waktu 15 tahun sejak dicanangkan 2007. Diketahui hingga tahap ketiga (2020-2024) masih di bawah 70%.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!