Gibran dan Panggung Politik Milenial
Senin, 10 Agustus 2020 - 09:23 WIB
Pilkada sebagai ciri penting demokrasi prosedural, harus merefleksikan politik penuh kebahagiaan. Ketegangan-ketegangan yang dihadirkan dalam panggung demokrasi hanya akan merobek keberagaman politik sebagai fakta sosial yang sulit dihindari.
Beban psikologi yang berat sebagai anak Presiden, membuat insting politiknya diuji, bagaimana menang mutlak dengan cara-cara cerdas dan kreatif. Akses melimpah terhadap resources politik dan ekonomi menjadikan menang secara kuantitatif dengan selisih angka-angka statistik yang lebar, tidaklah cukup dalam kacamata demokrasi substansial. Gibran harus merengkuh kemenangan secara kualitatif untuk mengembalikan bandul demokrasi lokal yang terus berayun secara ekstrim ke arah demokrasi liberal-kapitalistik.
Dalam spektrum yang lebih luas, Gibran adalah harapan baru lahirnya panggung politik milenial yang cerdas dan sehat. Pebisnis Markobar ini tidak perlu mereproduksi cara-cara politisi pada umumnya yang berburu suara dengan kuasa uang, apalagi politik sembako (vote buying) di era pandemi.
Mewakili zamannya, Gibran harus tampil sebagai politisi milenial yang bisa menjadi sentrum literasi politik generasi milenial urban. Literasi politik milenial mengandaikan prinsip rasionalitas pilihan berbasis kreatifitas dan inovasi program untuk melompat jauh ke depan. Inilah panggung politik milenial yang merepresentasikan cara anak muda membangun ekosistem politik yang cerdas dan sehat.
Ekosistem politik milenial merefleksikan ekspresi dinamis dan kecepatan dalam merespons peristiwa-peristiwa politik melalui kanal-kanal teknologi informasi. Politik milenial adalah langgam politik masa kini yang perlu dihadirkan dalam menyambut sekaligus mengukuhkan optimisme yang berjalan merayap di tebing ketidakpastian ekonomi akibat pandemi corona.
Politik milenial bukanlah prototype politik yang meneguhkan demokrasi pasar. Sebaliknya, politik milenial dibangun berbasiskan uji argumentasi dan uji program untuk mengartikulasikan percepatan-percepatan dalam meluruskan kembali agenda reformasi yang bengkok terutama di level lokal (otonomi daerah).
Ekosistem politik milenial dibangun berdasarkan karakteristik milenial urban yang creative, confidence dan connected. Karakter kreatif melekat pada perilaku milenial yang lebih menyukai tantangan-tantangan baru termasuk dalam preferensi pekerjaan.
Pilihan profesi pada jejaring industri kreatif seperti content creator, programmer, gamer, vlogger, youtuber ataupun profesi-profesi independen lainnya, menandai elemen-elemen kreativitas pada generasi ini.
Karakter confidence menandai kepercayaan diri yang tinggi kelompok milenial dengan cara pandang optimisme dan interaksinya yang intens dalam berbagai dialektika dan perdebatan-perdebatan di ruang publik virtual. Terhadap fenomena politik, pada titik tertentu, milenial tampak tidak risih lagi berdebat atau mengekspresikan kemerdekaan berpikir dan partisipasi politiknya meski hanya melalui social media.
Beban psikologi yang berat sebagai anak Presiden, membuat insting politiknya diuji, bagaimana menang mutlak dengan cara-cara cerdas dan kreatif. Akses melimpah terhadap resources politik dan ekonomi menjadikan menang secara kuantitatif dengan selisih angka-angka statistik yang lebar, tidaklah cukup dalam kacamata demokrasi substansial. Gibran harus merengkuh kemenangan secara kualitatif untuk mengembalikan bandul demokrasi lokal yang terus berayun secara ekstrim ke arah demokrasi liberal-kapitalistik.
Dalam spektrum yang lebih luas, Gibran adalah harapan baru lahirnya panggung politik milenial yang cerdas dan sehat. Pebisnis Markobar ini tidak perlu mereproduksi cara-cara politisi pada umumnya yang berburu suara dengan kuasa uang, apalagi politik sembako (vote buying) di era pandemi.
Mewakili zamannya, Gibran harus tampil sebagai politisi milenial yang bisa menjadi sentrum literasi politik generasi milenial urban. Literasi politik milenial mengandaikan prinsip rasionalitas pilihan berbasis kreatifitas dan inovasi program untuk melompat jauh ke depan. Inilah panggung politik milenial yang merepresentasikan cara anak muda membangun ekosistem politik yang cerdas dan sehat.
Ekosistem politik milenial merefleksikan ekspresi dinamis dan kecepatan dalam merespons peristiwa-peristiwa politik melalui kanal-kanal teknologi informasi. Politik milenial adalah langgam politik masa kini yang perlu dihadirkan dalam menyambut sekaligus mengukuhkan optimisme yang berjalan merayap di tebing ketidakpastian ekonomi akibat pandemi corona.
Politik milenial bukanlah prototype politik yang meneguhkan demokrasi pasar. Sebaliknya, politik milenial dibangun berbasiskan uji argumentasi dan uji program untuk mengartikulasikan percepatan-percepatan dalam meluruskan kembali agenda reformasi yang bengkok terutama di level lokal (otonomi daerah).
Ekosistem politik milenial dibangun berdasarkan karakteristik milenial urban yang creative, confidence dan connected. Karakter kreatif melekat pada perilaku milenial yang lebih menyukai tantangan-tantangan baru termasuk dalam preferensi pekerjaan.
Pilihan profesi pada jejaring industri kreatif seperti content creator, programmer, gamer, vlogger, youtuber ataupun profesi-profesi independen lainnya, menandai elemen-elemen kreativitas pada generasi ini.
Karakter confidence menandai kepercayaan diri yang tinggi kelompok milenial dengan cara pandang optimisme dan interaksinya yang intens dalam berbagai dialektika dan perdebatan-perdebatan di ruang publik virtual. Terhadap fenomena politik, pada titik tertentu, milenial tampak tidak risih lagi berdebat atau mengekspresikan kemerdekaan berpikir dan partisipasi politiknya meski hanya melalui social media.
Lihat Juga :