Menanti Laporan Kinerja Ekonomi Kuartal II
Senin, 03 Agustus 2020 - 07:07 WIB
Dengan minusnya pertumbuhan ekonomi negara-negara mitra dagang Indonesia, sudah dipastikan pasar ekspor nasional bakal terpengaruh karena konsumsi di negara tujuan sedang lesu. Maka itu, akan lebih baik jika pemerintah segera mencari peluang di pasar baru di negara nontradisional di samping negara-negara langganan ekspor.
Kekhawatiran terhadap kontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup masuk akal mengingat dampak pandemi Covid-19 menghantam semua sektor, termasuk usaha kecil dan menengah (UKM) yang biasanya "kebal" krisis. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) pernah menyebutkan, lebih dari 20 juta unit UKM terdampak pandemi. Sungguh bukan angka yang sedikit, apalagi sektor ini yang paling bersinggungan langsung dengan konsumen. Mereka termasuk kelompok usaha yang merasakan langsung adanya transaksi masyarakat sehari-hari. Adapun Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkapkan, setidaknya sekitar 6 juta orang telah kehilangan pekerjaan akibat Covid-19.
Lesunya perekonomian di kuartal kedua juga sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Bank Indonesia (BI). Otoritas moneter itu menyebutkan, pada kuartal II/2020, SKDU mengalami penurunan yang tercermin dari nilai saldo bersih tertimbang (SBT) sebesar -35,75%. Angka itu terkontraksi lebih dalam dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya -5,56%. Sebagai informasi, pada periode tiga bulan pertama 2020, angka pertumbuhan ekonomi tumbuh 2,97%.
Menurut BI, penurunan kegiatan dunia usaha terjadi pada seluruh sektor ekonomi dengan penurunan terdalam pada sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor jasa-jasa. Hal tersebut terutama disebabkan oleh penurunan permintaan dan gangguan pasokan akibat pandemi Covid-19.
Melihat data-data yang mengindikasikan pelemahan aktivitas ekonomi tersebut, wajar apabila banyak kalangan yang merasa pesimistis dengan kinerja produk domestik bruto (PDB) di kuartal kedua. Namun, bukan berarti tidak ada harapan terhadap prospek ekonomi di masa mendatang. Apalagi, pemerintah melalui Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional sudah bertekad bahwa pemulihan ekonomi menjadi prioritas di masa pandemi, tanpa melupakan masalah kesehatan.
Kekhawatiran terhadap kontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup masuk akal mengingat dampak pandemi Covid-19 menghantam semua sektor, termasuk usaha kecil dan menengah (UKM) yang biasanya "kebal" krisis. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) pernah menyebutkan, lebih dari 20 juta unit UKM terdampak pandemi. Sungguh bukan angka yang sedikit, apalagi sektor ini yang paling bersinggungan langsung dengan konsumen. Mereka termasuk kelompok usaha yang merasakan langsung adanya transaksi masyarakat sehari-hari. Adapun Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkapkan, setidaknya sekitar 6 juta orang telah kehilangan pekerjaan akibat Covid-19.
Lesunya perekonomian di kuartal kedua juga sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Bank Indonesia (BI). Otoritas moneter itu menyebutkan, pada kuartal II/2020, SKDU mengalami penurunan yang tercermin dari nilai saldo bersih tertimbang (SBT) sebesar -35,75%. Angka itu terkontraksi lebih dalam dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya -5,56%. Sebagai informasi, pada periode tiga bulan pertama 2020, angka pertumbuhan ekonomi tumbuh 2,97%.
Menurut BI, penurunan kegiatan dunia usaha terjadi pada seluruh sektor ekonomi dengan penurunan terdalam pada sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor jasa-jasa. Hal tersebut terutama disebabkan oleh penurunan permintaan dan gangguan pasokan akibat pandemi Covid-19.
Melihat data-data yang mengindikasikan pelemahan aktivitas ekonomi tersebut, wajar apabila banyak kalangan yang merasa pesimistis dengan kinerja produk domestik bruto (PDB) di kuartal kedua. Namun, bukan berarti tidak ada harapan terhadap prospek ekonomi di masa mendatang. Apalagi, pemerintah melalui Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional sudah bertekad bahwa pemulihan ekonomi menjadi prioritas di masa pandemi, tanpa melupakan masalah kesehatan.
Lihat Juga :