Artis, Prostitusi, dan Narkoba

Kamis, 30 Juli 2020 - 19:17 WIB
Fakta bahwa ada ketertarikan yang tinggi pada masyarakat untuk mengetahui kehidupan para artis atau selebritas menyebabkan adanya rasa penasaran dalam masyarakat pada kehidupan gemerlap ala selebritas. Kondisi ini menyebabkan dampak baik pada masyarakat yang semakin ‘kepo’ dengan kehidupan selebritas, demikian juga sebaliknya bagi para selebritas akan menimbulkan tekanan tersendiri (seperti di Korea Selatan, banyak artis bunuh diri karena kritik netizen ) atau sebaliknya para selebritas tersebut juga menikmati situasi tersebut dan bahkan mengambil manfaat komersial dari rasa ingin tahu yang berlebihan tersebut. Di sinilah relasi antara artis (oknum), prostitusi, dan narkoba terjadi.

Prostitusi (Oknum) Artis

Dalam memahami prostitusi yang melibatkan (oknum) artis perlu dipahami dari dua perspektif, yakni perspektif masyarakat dan perspektif artis itu sendiri. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan prostitusi yang melibatkan artis, hanya sensasi artis dalam hal ini membuat ketertarikan masyarakat semakin besar. Dalam perspektif masyarakat, artis atau selebritas dengan segala kehidupannya yang gemerlap menimbulkan perspektif bahwa artis itu ‘tidak terjangkau’ (untouchable) dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. Masyarakat hanya dapat menikmati selebritas melalui televisi, media sosial, dan media massa.

Sebaliknya, bagi kebanyakan selebritas kehidupan glamor adalah wajib hukumnya, meskipun ada juga selebritas yang berpola hidup sederhana. Kehidupan mewah dan glamor (bahkan hedonis) dari para selebritas tersebut selain menjadi objek komersialisasi, juga dipandang menjadi bentuk eksistensi bagi sebagian (oknum) artis. Akibatnya, jika taraf hidup mewah tersebut tidak dapat dipertahankan dengan profesi artis, maka ada kecenderungan oknum selebritas untuk menghalalkan segala cara demi mencapai gaya hidup mewah sebagai bentuk eksistensinya sebagai selebritas. Kondisi ini menunjukkan adanya potensi suplai dalam hukum suplai dan demand .

"Menjemput Rezeki" adalah istilah yang santer beredar di masyarakat pada tahun lalu. Istilah ini kala itu dituliskan salah satu selebritas yang terlibat kasus prostitusi. Mulai persidangan kasus Roby Abas (mucikari puluhan artis) hingga kasus terakhir yang melibatkan oknum artis VS dan HH, masyarakat disuguhi dengan tarif prostitusi (oknum) artis yang terbilang tinggi. Lantas mengapa tetap ada demand dari pengguna dan jawabannya adalah ‘sensasi artis’. Pertanyaan berikutnya adalah tentu tarif yang tinggi hanya dapat dibayarkan oleh bukan sembarang masyarakat, lantas dengan berkali-kali terjadi penggerebekan mengapa tetap ada demand? Jawabannya sederhana, proses hukum yang terjadi selama ini hanya menjerat selebritas dan mucikarinya saja. Setidaknya dalam 10 tahun tidak pernah terungkap sosok ‘pengguna’ prostitusi (oknum) selebritas. Itulah sebabnya demand tetap tinggi dan tidak ada efek jera.

Narkoba (Oknum) Artis
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!