Duel Pendiri Bangsa yang Mematikan
Senin, 19 Juni 2023 - 14:09 WIB
Pada 2017, kisah hidup Hamilton dipentaskan dalam sebuah pertunjukan besar di Theatre Broadway, New York, dengan judul “Hamilton”. Maka nama Hamilton kembali dibicarakan banyak orang. Ini adalah pertunjukan yang musik, lirik, dan naskahnya ditulis oleh Lin-Manuel Miranda. Sedangkan ceritanya diangkat dari biografi Hamilton karya Ron Chernow, dan disutradarai oleh Thomas Kail.
Pertunjukan itu membawa penonton ke panggung kehidupan masa lalu Alexander Hamilton, seorang anak yatim piatu penuh ambisi dan kemudian berhasil menjadi orang kepercayaan George Washington, yang kemudian menjadi presiden pertama Amerika Serikat. Karakter tokoh yang ditampilkan ke atas panggung mulai dari George Washington sampai Thomas Jefferson, dan tentu saja, musuh Hamilton, yakni Aaron Burr, yang membunuhnya dalam duel bersejarah di Weehawken.
The New Yorker menyebut pertunjukan itu merupakan pencapaian rekonstruksi ulang sejarah dan budaya Amerika Serikat. Kemudian The Wall Street Journal menulis: “'Hamilton' is the most exciting and significant musical of the decade. Sensationally potent and theatrically vital, it is plugged straight into the wall socket of contemporary music. This show makes me feel hopeful for the future of musical theater.” Sedangkan The New York Times berkomentar: “Historic. 'Hamilton' is brewing up a revolution. This is a show that aims impossibly high and hits its target. It's probably not possible to top the adrenaline rush.”
Layaknya sebuah museum, di dalam rumah itu dipaparkan latar belakang sejarah Amerika Serikat dan peran Alexander Hamilton. Kemudian secara bergiliran (per 14 orang dalam satu kelompok) para pengunjung diizinkan oleh petugas di situ untuk naik ke lantai dua. Pembatasan ini dilakukan dengan pertimbangan daya tahan lantai rumah. Maklum, ini bangunan asli, meski lokasinya tak berada di tempat asalnya. Bangunan ini pernah dipindah sebanyak dua kali dengan cara mengangkat langsung rumah itu secara utuh.
Di lantai dua, ada ruangan belajar dan meja tempat Hamilton menulis. Lalu ada ruang makan dengan meja yang cukup panjang. Kemudian ada ruang bersantai yang cukup lengang. Meski tidak terlalu luas, tapi terkesan lega dan nyaman. Saya bermaksud naik lagi ke lantai atasnya, tapi tidak diizinkan. Di lantai tiga itu, kata petugas, hanya untuk staf museum bekerja dan dua tempat tidur di sana.
Acara terakhir saya menonton film dokumenter pendek mengenai tokoh ini. Alexander Hamilton lahir di Hindia Barat, Kepulauan Karibia, pada 11 Januari 1757 (ada yang menyebut tahun 1955). Konon ia anak di luar nikah. Pada tahun 1765, ketika Alexander berusia delapan tahun, keluarga itu pindah ke St. Croix, tak jauh dari tempat asalnya. Selama empat tahun berikutnya, Alexander Hamilton dan saudaranya mulai kehilangan satu demi satu kerabatnya. Bibinya meninggal, lalu pamannya, kemudian nenek mereka. Tak cuma itu. Ayahnya meninggalkan keluarga begitu saja alias kabur. Tak lama kemudian ibunya meninggal akibat demam pada 1768, disusul saudaranya yang bunuh diri pada 1769. Jadilah ia remaja yatim piatu.
Hamilton muda bekerja sebagai juru tulis untuk sebuah perusahaan perdagangan. Dia sangat dipercaya oleh atasannya. Bahkan, ketika dia masih berusia empat belas tahun, dia mendapat kepercayaan untuk bertanggung jawab atas keseluruhan bisnis selama beberapa bulan sementara atasannya berada di New York. Hamilton dikenal sebagai remaja yang pintar. Sehingga pada tahun 1772, ketika usianya 17, ia dikirim ke New York untuk belajar di King's College (sekarang University of Columbia) atas sponsor atasannya itu. Di sini pun ia dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas.
Pertunjukan itu membawa penonton ke panggung kehidupan masa lalu Alexander Hamilton, seorang anak yatim piatu penuh ambisi dan kemudian berhasil menjadi orang kepercayaan George Washington, yang kemudian menjadi presiden pertama Amerika Serikat. Karakter tokoh yang ditampilkan ke atas panggung mulai dari George Washington sampai Thomas Jefferson, dan tentu saja, musuh Hamilton, yakni Aaron Burr, yang membunuhnya dalam duel bersejarah di Weehawken.
The New Yorker menyebut pertunjukan itu merupakan pencapaian rekonstruksi ulang sejarah dan budaya Amerika Serikat. Kemudian The Wall Street Journal menulis: “'Hamilton' is the most exciting and significant musical of the decade. Sensationally potent and theatrically vital, it is plugged straight into the wall socket of contemporary music. This show makes me feel hopeful for the future of musical theater.” Sedangkan The New York Times berkomentar: “Historic. 'Hamilton' is brewing up a revolution. This is a show that aims impossibly high and hits its target. It's probably not possible to top the adrenaline rush.”
Layaknya sebuah museum, di dalam rumah itu dipaparkan latar belakang sejarah Amerika Serikat dan peran Alexander Hamilton. Kemudian secara bergiliran (per 14 orang dalam satu kelompok) para pengunjung diizinkan oleh petugas di situ untuk naik ke lantai dua. Pembatasan ini dilakukan dengan pertimbangan daya tahan lantai rumah. Maklum, ini bangunan asli, meski lokasinya tak berada di tempat asalnya. Bangunan ini pernah dipindah sebanyak dua kali dengan cara mengangkat langsung rumah itu secara utuh.
Di lantai dua, ada ruangan belajar dan meja tempat Hamilton menulis. Lalu ada ruang makan dengan meja yang cukup panjang. Kemudian ada ruang bersantai yang cukup lengang. Meski tidak terlalu luas, tapi terkesan lega dan nyaman. Saya bermaksud naik lagi ke lantai atasnya, tapi tidak diizinkan. Di lantai tiga itu, kata petugas, hanya untuk staf museum bekerja dan dua tempat tidur di sana.
Acara terakhir saya menonton film dokumenter pendek mengenai tokoh ini. Alexander Hamilton lahir di Hindia Barat, Kepulauan Karibia, pada 11 Januari 1757 (ada yang menyebut tahun 1955). Konon ia anak di luar nikah. Pada tahun 1765, ketika Alexander berusia delapan tahun, keluarga itu pindah ke St. Croix, tak jauh dari tempat asalnya. Selama empat tahun berikutnya, Alexander Hamilton dan saudaranya mulai kehilangan satu demi satu kerabatnya. Bibinya meninggal, lalu pamannya, kemudian nenek mereka. Tak cuma itu. Ayahnya meninggalkan keluarga begitu saja alias kabur. Tak lama kemudian ibunya meninggal akibat demam pada 1768, disusul saudaranya yang bunuh diri pada 1769. Jadilah ia remaja yatim piatu.
Hamilton muda bekerja sebagai juru tulis untuk sebuah perusahaan perdagangan. Dia sangat dipercaya oleh atasannya. Bahkan, ketika dia masih berusia empat belas tahun, dia mendapat kepercayaan untuk bertanggung jawab atas keseluruhan bisnis selama beberapa bulan sementara atasannya berada di New York. Hamilton dikenal sebagai remaja yang pintar. Sehingga pada tahun 1772, ketika usianya 17, ia dikirim ke New York untuk belajar di King's College (sekarang University of Columbia) atas sponsor atasannya itu. Di sini pun ia dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas.
Lihat Juga :